Argentina dilanda gejolak. Ibu kota Buenos Aires mendadak lumpuh total setelah serikat buruh besar memimpin mogok kerja 24 jam. Aksi ini merupakan bentuk perlawanan keras terhadap rencana reformasi ketenagakerjaan kontroversial yang diusulkan Presiden Javier Milei, seorang politikus libertarian yang dikenal dengan gaya radikalnya.
Mogok umum yang terjadi pada Kamis waktu setempat ini membuat berbagai sektor di Buenos Aires mandek. Layanan kereta bawah tanah berhenti, banyak rute bus tak beroperasi, dan maskapai penerbangan nasional Aerolineas Argentinas bahkan membatalkan 255 penerbangan, menelan kerugian fantastis hingga USD 300 juta. Bank dan sekolah pun turut ditutup sebagai bentuk solidaritas. Ini adalah mogok umum keempat sejak Milei menjabat pada akhir 2023, menunjukkan betapa kuatnya penolakan publik.
Reformasi yang tengah diperdebatkan di parlemen Argentina ini mencakup poin-poin yang sangat sensitif bagi para pekerja. Rencananya, pemerintah akan mempermudah perusahaan melakukan pemecatan (PHK), memangkas pesangon, dan yang tak kalah mengejutkan, menambah jam kerja standar dari delapan menjadi dua belas jam sehari. Tak hanya itu, hak untuk mogok kerja juga akan diperketat dengan memperluas definisi 'pekerjaan esensial'.
Konfederasi Buruh Umum (CGT), salah satu serikat terbesar di Argentina, menyerukan warganya untuk menunjukkan penolakan mereka di 'jalan-jalan, di Kongres, di pengadilan, dan di setiap tempat kerja'. Mereka menegaskan bahwa hak-hak pekerja tidak bisa ditawar, sebab 'jika mereka menyerang hak-hak pekerja, mereka menyerang industri nasional dan masa depan negara'.
Di sisi lain, pemerintahan Milei berargumen bahwa langkah-langkah drastis ini sangat diperlukan untuk menarik investasi asing dan meningkatkan profitabilitas perusahaan, sekaligus mengurangi beban regulasi ketenagakerjaan yang dianggap menghambat pertumbuhan ekonomi. Argentina memang sedang terhuyung-huyung dengan ekonomi yang sakit, di mana inflasi sempat menyentuh angka 200 persen saat Milei terpilih. Janji Milei untuk 'menggempur' birokrasi dan masalah ekonomi dengan 'gergaji mesin' radikal adalah salah satu faktor kemenangannya.
Menariknya, Milei mendapat dukungan dari mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sesama pemimpin sayap kanan yang ditemuinya di Washington, DC. Trump bahkan sempat menjanjikan bantuan swap mata uang senilai USD 20 miliar sebelum pemilihan sela Argentina tahun lalu, yang dikaitkan dengan hasil positif bagi partai Milei, La Libertad Avanza. Koalisi Milei berhasil memenangkan lebih dari 40 persen suara populer, mengalahkan partai lain.
Meskipun RUU reformasi ketenagakerjaan ini mendapat tentangan keras, para analis memperkirakan RUU tersebut kemungkinan besar akan disahkan. Versi awal RUU ini sudah lolos di Senat Argentina, menandakan jalan lapang bagi Milei untuk mewujudkan janji radikalnya. Jika disahkan, reformasi ini dipastikan akan mengubah drastis lanskap ketenagakerjaan dan kehidupan masyarakat Argentina.