DOHA, QATAR — Menteri Negara Urusan Perdagangan Luar Negeri Qatar, Ahmad bin Mohammed al-Sayed, menyoroti ancaman nyata di balik ketidakstabilan geopolitik global. Dalam pidatonya di World Investment Forum yang digelar PBB di Doha, ia menegaskan bahwa perdagangan dan investasi tidak akan pernah tumbuh subur tanpa adanya perdamaian dan keamanan.
Al-Sayed menyebut, gejolak politik dan fragmentasi ekonomi saat ini telah mendefinisikan ulang lanskap investasi dunia. "Investasi masa depan erat kaitannya dengan investasi perdamaian dan keamanan," ujarnya, seperti dikutip dari laporan media internasional. Menurutnya, hanya dengan lingkungan yang aman dan stabil, perdagangan bisa berkembang dan investasi jangka panjang dapat terwujud.
Pernyataan ini muncul di tengah memanasnya situasi global. Konflik di Timur Tengah, terutama ketegangan antara AS-Israel dan Iran, telah mengganggu jalur pelayaran vital Selat Hormuz. Sebelum konflik pecah, seperlima minyak dan gas dunia mengalir melalui selat tersebut. Kini, gangguan tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga menembus angka 113 dolar AS per barel, memberikan tekanan baru bagi perekonomian global.
Dampak langsung juga dirasakan Qatar. Serangan Iran pada Maret lalu dilaporkan merusak fasilitas di kompleks industri Ras Laffan, dengan perbaikan yang diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun. Meski demikian, Qatar tetap berupaya memperkuat rantai pasok dan mendiversifikasi mitra dagang. Pada 2025, Qatar mencatat 373 proyek investasi asing langsung (FDI), naik 50 persen dari tahun sebelumnya, dan menciptakan lebih dari 15.000 lapangan kerja. Qatar juga menyiapkan proyek infrastruktur senilai 38,5 miliar dolar AS dalam lima tahun ke depan.
Analisis Singkat: Pesan Qatar ini menjadi alarm bagi masyarakat global bahwa ketegangan geopolitik bukan sekadar berita politik, melainkan berdampak langsung pada harga energi, ketersediaan lapangan kerja, dan stabilitas ekonomi sehari-hari. Ketika negara-negara besar bertikai, efek dominonya terasa hingga ke dompet rakyat melalui kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup.