NYAWA TAHANAN PRO-PALESTINA TERANCAM AKIBAT MOGOK MAKAN - Berita Dunia
← Kembali

NYAWA TAHANAN PRO-PALESTINA TERANCAM AKIBAT MOGOK MAKAN

Foto Berita

Kabar mengkhawatirkan datang dari London, Inggris. Umer Khalid, tahanan pro-Palestina berusia 22 tahun, dilaporkan kembali dilarikan ke rumah sakit setelah kondisi kesehatannya memburuk drastis akibat mogok makan. Detak jantungnya melambat dan organ vitalnya sempat mengalami kegagalan, menyulut kekhawatiran besar dari keluarga yang kesulitan mendapatkan informasi pasti tentang kondisinya dari pihak penjara.

Khalid sebelumnya mengakhiri aksi mogok makannya selama 17 hari setelah ia sempat dirawat intensif pada 25 Januari lalu. Namun, hanya berselang tiga hari, tepatnya 28 Januari, pihak Penjara Wormwood Scrubs mengabarkan bahwa Khalid kembali menjalani perawatan. Ibunya, Shabana, mengaku terakhir berkomunikasi dengan sang anak pada 26 Januari dan sejak itu ia seperti terputus kontak. Berbagai upaya menghubungi pihak penjara belum membuahkan hasil, membuat Shabana cemas akan nyawa putranya.

"Saya takut akan hidupnya," ungkap Shabana kepada Al Jazeera, Jumat lalu. "Secara mental, ia mungkin stres dan putus asa. Kami tidak bisa menghubungi siapa pun. Saya harap ia baik-baik saja, tapi saya tidak tahu karena tidak ada informasi jelas." Ia menambahkan, saat terakhir bicara, Khalid terdengar lelah dan mengeluh mulutnya kering. Bahkan, menjelang akhir mogok makan, ia sempat menolak cairan.

Umer Khalid merupakan salah satu dari lima aktivis yang dituduh membobol pangkalan udara terbesar Inggris, RAF Brize Norton, di Oxfordshire pada Juni tahun lalu. Mereka dituduh merusak properti dan masuk area terlarang dengan menyemprotkan cat ke dua pesawat pengisian bahan bakar Voyager. Insiden ini, yang diklaim oleh kelompok Palestine Action, disebut pemerintah Inggris menyebabkan kerugian jutaan pound dan berujung pada pelabelan Palestine Action sebagai "organisasi teroris." Keputusan ini sempat menuai kritik tajam karena dianggap sebagai tindakan berlebihan yang mengekang kebebasan berekspresi, mengingat Palestine Action berpendapat bahwa mereka menentang perang genosida Israel terhadap Palestina dan keterlibatan Inggris di dalamnya.

Khalid, yang juga mengidap distrofi otot limb-girdle, adalah bagian dari delapan tahanan pra-sidang yang terkait dengan Palestine Action. Mereka memulai mogok makan bergilir sejak November lalu, meski kini semua sudah mengakhirinya. Kurangnya transparansi informasi dari otoritas penjara mengenai kondisi kesehatan tahanan mogok makan ini menjadi sorotan serius, memicu pertanyaan tentang standar perawatan dan hak asasi di dalam penjara Inggris.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook