JANJI GENCATAN SENJATA HILANG, RAMADAN GAZA KIAN MERANA - Berita Dunia
← Kembali

JANJI GENCATAN SENJATA HILANG, RAMADAN GAZA KIAN MERANA

Foto Berita

Empat bulan setelah 'gencatan senjata' yang dimediasi Amerika Serikat berlaku Oktober lalu, realitas pahit masih membelenggu warga Gaza. Keluarga Nisreen Nassar, misalnya, masih harus berteduh di bangunan sekolah yang seadanya, bahkan saat bulan suci Ramadan tiba. Harapan akan kondisi yang lebih baik dari perang sebelumnya pupus, berganti dengan kenyataan yang justru makin sulit.

Di Gaza Utara, termasuk di bekas kediaman mereka di Beit Hanoon yang kini tinggal puing, ribuan keluarga lain seperti Nisreen dan suaminya, Thaer, terus mengandalkan bantuan kemanusiaan. Ironisnya, untuk sekadar menyiapkan hidangan berbuka (Iftar), Nisreen harus membakar kayu dan sampah plastik karena kelangkaan gas. Mereka telah berkali-kali mengungsi, dari Beit Hanoon ke Rafah lalu Khan Younis, demi mencari keselamatan yang tak kunjung datang.

Anak-anak keluarga Nassar, yang berjumlah tujuh orang, tidur di lantai semen tanpa alas layak. Barang berharga mereka hanya sebatas beberapa tas pakaian dan selimut tipis. Thaer menceritakan, anak-anaknya hidup dalam ketakutan. Suara tembakan Israel, yang diklaim masih terus terjadi meski ada kesepakatan gencatan senjata, membuat mereka tak berani keluar. Hari-hari bermain bola atau bersekolah seperti dulu, kini hanya menjadi impian.

Data dari Kementerian Kesehatan Gaza sendiri mengungkap fakta mencengangkan: lebih dari 600 warga Palestina tewas dalam serangan Israel sejak gencatan senjata berlaku. Angka ini seolah menegaskan bahwa 'gencatan senjata' yang dijanjikan tak lebih dari sekadar tulisan di atas kertas, jauh dari harapan perdamaian yang didambakan.

Sebagai Senior Editor, saya melihat situasi ini sebagai potret nyata kegagalan komunitas internasional menjamin keamanan warga sipil. Gencatan senjata yang seharusnya membawa jeda, justru diwarnai terusnya penderitaan dan pelanggaran. Krisis kemanusiaan di Gaza bukan hanya soal minimnya pangan atau tempat tinggal, tapi juga dampak psikologis mendalam pada generasi muda yang tumbuh dalam bayang-bayang ketakutan dan kehancuran. Meski demikian, kisah keluarga Nassar dan ribuan lainnya juga menyoroti ketahanan spiritual dan semangat pantang menyerah warga Palestina, yang tetap merayakan Ramadan di tengah segala ketidakpastian.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook