Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, baru-baru ini memicu kontroversi dengan pidatonya yang berlatar belakang Akropolis di Athena, Yunani. Dalam pidato tersebut, Rubio membangkitkan memori kejayaan peradaban Barat kuno, mulai dari Yunani hingga Roma, dan mengaitkannya dengan konflik modern melawan Iran. Ia menyamakan ancaman yang dihadapi dunia Barat saat ini dengan ancaman yang dihadapi peradaban kuno saat menghadapi Kekaisaran Persia.
Rubio secara spesifik merujuk pada Perang Greco-Persia, di mana Raja Xerxes I dari Persia menghancurkan Athena pada tahun 480 SM. Ia menggunakan narasi sejarah ini untuk membenarkan kebijakan luar negeri pemerintahan Trump yang agresif terhadap Iran, yang ia sebut sebagai rezim 'fanatik' dengan 'kultus kematian'. Pidato ini menegaskan bahwa AS di bawah pemerintahan Trump akan mengejar kekuatan nasional tanpa rasa malu.
Pernyataan Rubio langsung menuai reaksi keras dari Teheran. Pejabat tinggi Iran, termasuk Kepala Keamanan Mohsen Rezaei dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, membalas dengan mengingatkan Rubio tentang Kaisar Romawi Valerian, yang ditangkap hidup-hidup oleh pasukan Persia pada tahun 260 M. Mereka memperingatkan bahwa siapa pun yang membawa sejarah ke dalam konflik harus siap menghadapi pengulangannya.
Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Rubio telah menyederhanakan sejarah dan menggunakan narasi 'America First' untuk melegitimasi eskalasi militer. Juru bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa AS lebih memilih membenarkan kebijakan paksaan mereka di bawah 'lampu neon filsafat sejarah' daripada mengakui tindakan bullying terbuka. Ketegangan ini terjadi di tengah konflik berkepanjangan antara AS dan Iran, dengan blokade laut AS yang masih berlangsung dan gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz.