Pertandingan perempat final Piala F.A. akhir pekan ini antara Manchester City dan Liverpool bukan sekadar laga biasa. Bagi The Reds, ini adalah duel hidup-mati yang berpotensi menentukan arah musim mereka yang sedang bergejolak. Bertandang ke markas The Citizens, Etihad Stadium, pada Sabtu, 4 April pukul 12.45 siang waktu setempat (atau 11.45 GMT), Liverpool berada di bawah tekanan sangat besar.
Klub Merseyside ini sedang terpuruk di posisi kelima Liga Primer. Alhasil, Piala F.A. dan Liga Champions menjadi satu-satunya asa tersisa untuk meraih gelar musim ini. Jika gagal di dua kompetisi tersebut, tekanan pada manajer Arne Slot dipastikan bakal makin hebat. Padahal, kurang dari setahun lalu Slot berhasil membawa Liverpool meraih gelar liga ke-20 yang menyamai rekor klub. Kini, masa depannya di Anfield bisa ditentukan dalam 10 hari krusial ini.
Sementara itu, Manchester City datang dengan kepercayaan diri tinggi. Mereka baru saja menunjukkan performa superior saat mengalahkan Arsenal 2-0 di final Piala Liga sebelum jeda internasional, dan masih berpeluang menyamai rekor treble domestik yang mereka raih pada musim 2018/19.
Drama di kubu Liverpool semakin menjadi dengan kabar kepergian sang mega bintang, Mohamed Salah, di akhir musim ini. Pemain asal Mesir ini telah mencetak 255 gol untuk klub dan ingin menutup sembilan musimnya dengan prestasi tinggi. Sempat terjadi gesekan di akhir tahun 2025 yang membuatnya absen di empat laga, namun kini Slot menegaskan bahwa Salah tetap menunjukkan profesionalisme dan rasa lapar gol yang luar biasa. Sang pelatih bahkan menyebutnya sebagai legenda.
Setelah menghadapi City di Piala F.A., Liverpool langsung dihadapkan pada tantangan lain: melawan juara bertahan Liga Champions, Paris Saint-Germain, dalam dua leg perempat final pada 8 dan 14 April. Kemenangan telak 4-0 atas Galatasaray di leg kedua babak 16 besar Liga Champions memang sempat mengangkat moral, namun kekalahan 2-1 dari Brighton di liga kembali menunjukkan inkonsistensi tim.
Bagi para penggemar, laga melawan Manchester City ini akan menjadi barometer apakah Liverpool memiliki mental juara untuk bangkit dari keterpurukan domestik. Ini bukan hanya soal melaju ke semifinal, melainkan juga menjaga asa untuk mengakhiri musim dengan senyuman, terutama di tengah perpisahan dengan salah satu legenda klub.