TELUK MEMANAS: AS DAN IRAN DI AMBANG KONFLIK? - Berita Dunia
← Kembali

TELUK MEMANAS: AS DAN IRAN DI AMBANG KONFLIK?

Foto Berita

Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak. Kapal-kapal perang Amerika Serikat kini bergerak memasuki Laut Arab, memperkeruh situasi di tengah ancaman verbal yang kian panas antara Washington dan Teheran. Langkah ini diambil di saat negara-negara kawasan berupaya keras mencari solusi diplomatik demi mencegah pecahnya konflik militer.

Presiden AS Donald Trump menegaskan waktu Iran kian sempit untuk kembali ke meja perundingan mengenai program nuklirnya. Ia bahkan menyamakan pengerahan pasukan laut ini dengan operasi militer di Venezuela yang berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro. Ancaman AS ini bukan kali pertama. Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan membombardir Iran, meski kemudian menarik ucapannya setelah Teheran menjamin tidak akan mengeksekusi para demonstran yang ditahan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tak gentar membalas. Ia memperingatkan bahwa militer Iran siap "dengan jari di pelatuk" dan akan merespons "segera dan kuat" terhadap serangan AS.

Ketegangan ini bukanlah hal baru. Tujuh bulan lalu, pembom AS menyerang fasilitas nuklir Iran selama perang 12 hari Iran-Israel. Iran kemudian membalas dengan menyerang Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, markas pasukan AS, serta beberapa kota Israel dengan rudal.

Inti perseteruan selama dua dekade terakhir adalah program nuklir dan rudal balistik Iran. AS dan sekutunya khawatir Iran mengembangkan senjata nuklir, sementara Teheran bersikeras programnya hanya untuk kebutuhan energi sipil. Di bawah perjanjian nuklir 2015 (JCPOA) era Obama, Iran sepakat membatasi pengayaan uraniumnya di 3,67% dan stok 300 kg, cukup untuk pembangkit listrik, namun jauh dari kapasitas senjata. Imbalannya, AS mencabut sebagian besar sanksi.

Namun, Presiden Trump menarik AS dari JCPOA pada 2018 dan kembali memberlakukan sanksi ekonomi yang melumpuhkan, menghantam keras kelas menengah Iran. Akibatnya, Iran secara bertahap juga mengurangi komitmennya. Kini, Teheran telah meningkatkan pengayaan uraniumnya hingga 60%, level yang dianggap siap untuk dikembangkan menjadi senjata, meski belum mencapai 90% yang merupakan tingkat murni senjata nuklir.

Tuntutan kedua pihak relatif sama selama bertahun-tahun: AS ingin Iran menghentikan program nuklir dan rudal balistiknya, sementara Iran menuntut pencabutan sanksi dan pengakuan haknya atas program nuklir sipil. Upaya diplomatik dari negara-negara Eropa dan kawasan terus dilakukan, namun jalan menuju solusi damai tampaknya masih terjal di tengah retorika agresif yang terus berkobar. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran akan stabilitas dan perekonomian global, khususnya di jalur vital perdagangan minyak dunia.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook