Operasi militer besar-besaran Israel di Tepi Barat yang diduduki telah memaksa lebih dari 2.000 warga Palestina meninggalkan rumah mereka di Hebron. Penutupan wilayah yang diberlakukan Israel kini telah berlangsung lebih dari 50 jam, dan eskalasi ini terjadi hanya beberapa hari sebelum pemilihan umum di Israel. Situasi di lapangan dilaporkan semakin memanas seiring dengan berlanjutnya pengusiran dan pembatasan ketat terhadap pergerakan warga sipil.
Analisis dampak: Langkah ini berpotensi memicu gelombang pengungsian baru dan memperburuk krisis kemanusiaan di Hebron, di mana akses terhadap kebutuhan dasar seperti pangan, air, dan layanan kesehatan semakin terbatas. Dari perspektif politik, operasi militer menjelang pemilu Israel diduga kuat dipakai sebagai instrumen untuk menarik dukungan dari kelompok kanan, namun di sisi lain berisiko memicu kecaman internasional dan meningkatkan ketegangan di kawasan. Media lain seperti Reuters dan BBC melaporkan bahwa komunitas internasional, termasuk PBB, telah menyuarakan kekhawatiran atas pelanggaran hukum humaniter internasional dalam operasi ini. Warga Hebron yang terusir kini menghadapi ketidakpastian tempat tinggal, sementara sekolah dan pasar terpaksa tutup, memperparah tekanan ekonomi dan sosial bagi masyarakat sipil.