Upaya mengakhiri perang di Ukraina memasuki babak baru. Negosiator Ukraina dan Rusia kembali duduk satu meja, kali ini di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dalam perundingan damai yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Perundingan yang dijadwalkan berlangsung dua hari ini adalah negosiasi publik langsung pertama antara Moskow dan Kyiv mengenai rencana yang didorong oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Isu sengketa wilayah, khususnya Donbas, menjadi ganjalan utama yang mendominasi agenda pembicaraan. Konflik yang sudah berjalan hampir empat tahun ini menemukan titik balik diplomatik, namun masih diwarnai ketegangan.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan, sengketa teritorial memang menjadi inti pembahasan. Namun, ia menekankan, "yang paling penting adalah Rusia harus siap mengakhiri perang yang dimulainya ini." Zelenskyy, yang mengaku terus berkomunikasi dengan delegasi Ukraina, menyebut masih terlalu dini untuk menyimpulkan hasil dari pembicaraan awal ini.
Dari kubu Rusia, tuntutan mereka tetap tak berubah: Ukraina harus menyerahkan seluruh wilayah Donbas. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut syarat ini "sangat penting", termasuk 20 persen wilayah Donetsk yang saat ini masih dikuasai Ukraina. Penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yury Ushakov, juga mempertegas bahwa penyelesaian jangka panjang tidak bisa diharapkan tanpa solusi untuk masalah teritorial ini.
Perundingan di Abu Dhabi ini terjadi sehari setelah Zelenskyy bertemu Trump di Forum Ekonomi Dunia Davos, Swiss. Beberapa jam sebelumnya, utusan AS Steve Witkoff juga sudah menggelar pertemuan maraton empat jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin. Namun, pertemuan tersebut belum memecahkan masalah utama, yakni sengketa wilayah dan jaminan keamanan bagi kedua belah pihak.
Di sisi lain, Ukraina sendiri menuntut jaminan keamanan dari para sekutu Baratnya, termasuk AS, jika kesepakatan damai tercapai. Tujuannya jelas, untuk mencegah Rusia kembali melakukan invasi di masa depan, sebuah kekhawatiran yang sangat nyata mengingat sejarah konflik ini.
Situasi di lapangan tak kalah genting. Serangan Rusia terus menargetkan infrastruktur energi Ukraina, menyebabkan pemadaman listrik besar-besaran di tengah musim dingin yang menusuk. Ribuan keluarga berjuang menghadapi suhu beku, dan laporan terbaru menyebut tiga warga tewas di wilayah Kharkiv akibat serangan Rusia. Ini menunjukkan betapa mendesaknya perdamaian bagi rakyat Ukraina, meski jalan diplomatik masih panjang dan penuh tantangan.