KYIV BEKU! INVASI RUSIA PICU KRISIS ENERGI KIAN PARAH! - Berita Dunia
← Kembali

KYIV BEKU! INVASI RUSIA PICU KRISIS ENERGI KIAN PARAH!

Foto Berita

Serangan udara Rusia kembali menghantam Ukraina dengan gelombang rudal dan drone, memperparah krisis energi dan kemanusiaan di tengah suhu beku yang menusuk tulang. Kondisi ini datang di saat Presiden AS Joe Biden menyebut Kyiv 'kurang siap untuk kesepakatan' dibandingkan Rusia.

Dalam dua minggu pertama Januari, Ukraina seperti tak henti diserang. Puncaknya, pada 9 Januari, Rusia menggempur Kyiv dan sejumlah kota lainnya dengan 242 drone kamikaze serta 26 rudal. Angkatan Udara Ukraina memang berhasil menembak jatuh sebagian besar, yakni 226 drone dan 8 rudal. Namun, drone dan rudal yang lolos menerjang Kyiv, Cherkasy, Kirovohrad, Odesa, Dnipro, hingga Lviv. Dampaknya fatal: empat warga sipil tewas dan hampir 30 lainnya terluka. Tak hanya itu, sekitar 6.000 gedung apartemen dan setengah juta penduduk terpaksa hidup tanpa listrik, pemanas, dan air bersih di tengah suhu di bawah nol derajat Celcius. Bayangkan, angin musim dingin yang menderu-deru menerobos masuk ke rumah-rumah yang jendelanya pecah!

Kondisi belum membaik. Dua hari setelah serangan pertama, sekitar 1.000 gedung apartemen di Kyiv masih gelap gulita tanpa listrik. Lalu, pada 13 Januari, Rusia kembali melancarkan serangan, kali ini menargetkan pembangkit listrik dan gardu induk, menewaskan empat warga sipil lagi. Akibatnya, pemadaman listrik darurat diberlakukan di Kyiv, Chernihiv, Odesa, Kharkiv, Dnipropetrovsk, Zaporizhia, dan wilayah Donetsk.

Betapa sulitnya situasi ini digambarkan oleh Oleksiy Sorokin, wakil editor Kyiv Independent. Ia bercerita, apartemennya di sisi kiri sungai Dnipro 'hanya bisa menikmati listrik lima jam dalam 72 jam'. Liza Nechyporuk, kepala media sosial koran yang sama, menambahkan bahwa pemanas di apartemennya 'sangat lemah' sehingga ia harus membeli beberapa botol air panas untuk menemaninya bekerja dan tidur.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy tak tinggal diam. Ia menuding Rusia 'memanfaatkan cuaca dingin untuk menyerang fasilitas energi kami sebanyak mungkin.' Setelah serangan kedua, Zelenskyy bahkan mengumumkan keadaan darurat sektor energi Ukraina dan membentuk markas koordinasi perbaikan di Kyiv. Ia juga menunjuk mantan Perdana Menteri Denys Shmyhal sebagai menteri energi, dengan instruksi untuk 'meningkatkan kapasitas impor listrik menggunakan semua peluang bisnis.' Menurut Kyiv Independent, serangan terbaru ini menjadikan 70 persen infrastruktur energi Ukraina rusak parah selama musim dingin ini.

Serangan-serangan brutal ini terjadi tak lama setelah Amerika Serikat dan Ukraina hampir mencapai kesepakatan pada 8 Januari mengenai jaminan keamanan setelah gencatan senjata. Pada saat yang sama, para sekutu Ukraina, yang tergabung dalam 'Coalition of the Willing', juga sedang memfinalisasi rincian pasukan multinasional untuk menjaga gencatan senjata. Ironisnya, Zelenskyy sendiri sempat optimistis pada 6 Januari, menyatakan 'arsitektur keamanan pascaperang praktis sudah siap'.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook