Gelombang protes besar yang melanda berbagai kota di Prancis berubah menjadi kerusuhan, dan Marine Le Pen tidak menyia-nyiakan momen ini untuk mendulang popularitas menjelang Pilpres April 2027. Dalam pernyataan videonya, pemimpin partai National Rally (RN) itu menyerang keras cara Presiden Emmanuel Macron menangani krisis. Menurut Le Pen, Macron sudah kehilangan kredibilitas dan otoritas, sementara rakyat terjepit di antara kebijakan penghematan yang menghimpit dan aksi radikal dari kelompok kiri.
Kekacauan ini bermula dari protes pelajar di kawasan miskin Paris pada 21 September terkait fasilitas sekolah yang rusak dan kekurangan guru. Demonstrasi cepat menyebar dan bertemu dengan aksi mogok sektor publik nasional menolak pemotongan anggaran. Le Pen lantas menyalahkan kelompok kiri dan 'dekolonisasi imigrasi' atas aksi penjarahan, meski tanpa bukti kuat bahwa perusuh adalah imigran. Ia memposisikan partainya sebagai satu-satunya kekuatan yang mampu memulihkan ketertiban.
Dampak kerusuhan sangat luas. Data Kementerian Dalam Negeri mencatat 550 ribu demonstran turun ke jalan (versi penyelenggara: 800 ribu). Aksi anarkis terjadi di mana-mana: Balai Kota Limoges yang bersejarah rusak berat, kantor turis di Lyon dibakar, dan kantor polisi di Marseille diserang. Di Paris, patung Marianne, simbol penting Republik, dirusak. Sebanyak 2.400 orang ditangkap hingga Minggu, dan satu orang meninggal karena serangan jantung. Macron mengecam perusuh dan menuduh kelompok kiri ekstrem sebagai dalang serangan terhadap polisi dan gedung publik. Perdana Menteri Sebastien Lecornu mengisyaratkan pemberlakuan jam malam parsial untuk meredam situasi.