Kasus Jeffrey Epstein, yang meninggal di penjara setelah terjerat tuduhan kejahatan seks terhadap anak di bawah umur, telah mengguncang publik. Namun, sebuah analisis tajam dari Yoav Litvin menyebut skandal ini lebih dari sekadar kasus pidana biasa. Menurutnya, hiruk-pikuk seputar Epstein justru menjadi "tontonan" yang efektif mengalihkan perhatian kita dari masalah struktural yang jauh lebih besar.
Litvin berargumen, skandal individu seperti Epstein seringkali berfungsi sebagai drama simbolik yang menggeser fokus dari analisis politik dan sistematis. Di tengah isu-isu global seperti dominasi imperial, kapitalisme, dan rasisme yang semakin nyata—terlihat dari operasi penegakan hukum imigrasi hingga dukungan pada konflik internasional—kasus Epstein hadir bak megafon yang justru membungkam perbincangan penting tentang akar masalah.
Bukan berarti kejahatan Epstein dianggap sepele. Sebaliknya, kasus ini memang menyingkap impunitas kelas penguasa dan konsentrasi kekuasaan yang korup. Namun, fokus media dan publik yang berlarut-larut pada detail sensasional kasus ini, seringkali tanpa akuntabilitas yang jelas dan narasi yang mengisolasi korban, justru menjadikannya alat pengalih perhatian. Alih-alih menuntut pertanggungjawaban struktural, kita seolah diajak menonton drama yang mendramatisasi ketidakadilan, tanpa benar-benar menantangnya secara sistematis.
Lebih jauh, analisis ini mengingatkan kita akan bahaya erosi demokrasi. Ketika perhatian publik dialihkan dari isu sistemik seperti rasisme, kapitalisme, dan impunitas internasional, ada celah yang terbuka lebar bagi konsolidasi fasisme. Fenomena "fasisme spektakel" ini, sebagaimana dijelaskan oleh pemikir seperti Walter Benjamin dan Hannah Arendt, seringkali melibatkan mobilisasi massa berbasis emosi, menggantikan proses institusional dengan citra dramatis, dan membangun narasi mitos kehancuran serta kelahiran kembali bangsa.
Maka, penting bagi kita untuk tidak larut dalam "tontonan" yang disuguhkan. Kasus Epstein harus menjadi pemicu, bukan pengalih, untuk menuntut akuntabilitas menyeluruh dan perubahan struktural yang mendasar, agar kita tidak terjebak dalam perangkap pengalihan isu yang merusak demokrasi dan keadilan sosial.