SINDIKAT CINTA PALSU GHANA DIBONGKAR, KORBAN LANJUT USIA KEHILANGAN RP146 MILIAR - Berita Dunia
← Kembali

SINDIKAT CINTA PALSU GHANA DIBONGKAR, KORBAN LANJUT USIA KEHILANGAN RP146 MILIAR

Foto Berita

Jaringan kriminal internasional yang berspesialisasi dalam penipuan cinta (romance scam) akhirnya berhasil dijerat hukum. Tiga tersangka—sepasang kembar identik berusia 22 tahun asal Ghana, Jamal dan Kamal Abubakari, serta seorang wanita asal Hawaii berusia 53 tahun, Amanda Joy Opoku-Boachie—telah mengaku bersalah atas peran mereka dalam merampas uang para lansia.

Modus operandi mereka terbilang klasik namun mematikan. Para pelaku memakai identitas palsu di situs kencan dan media sosial untuk menjerat korban di Amerika Serikat dan Eropa. Setelah korban percaya bahwa mereka menjalin hubungan asmara, pelaku membujuk korban untuk mentransfer dana besar ke rekening bank di Ghana.

Dalam periode Juli 2024 hingga April 2026, total kerugian korban mencapai angka fantastis, yakni 9 juta dolar AS atau sekitar Rp146 miliar. Korban tidak hanya berasal dari Ohio, tempat dakwaan diajukan, tetapi tersebar di 24 negara bagian AS lainnya, serta Jerman dan Austria.

Sebagai bagian dari perjanjian pengakuan bersalah, ketiga terdakwa sepakat menyerahkan aset mewah yang disita saat penangkapan. Barang sitaan tersebut mencakup perhiasan hingga jam tangan mewah, cincin, kalung, dan anting-anting. Mereka kini terancam hukuman penjara hingga 20 tahun dan akan menjalani sidang vonis pada tahun depan.

Analisis Dampak & Konteks Global: Kasus ini bukan sekadar kejahatan siber biasa, melainkan bagian dari gelombang besar penipuan lintas negara yang menyasar kelompok rentan. Pemerintah AS di bawah pemerintahan Trump memang sedang gencar menindak sindikat penipuan di Afrika Barat. Baru-baru ini, Direktur FBI Kash Patel mengumumkan ratusan penangkapan setelah pembongkaran pusat penipuan di Ghana. Sebelumnya, influencer Ghana, Abu Trica, juga diekstradisi ke AS karena kasus serupa senilai 8 juta dolar AS. Bagi masyarakat, kasus ini menjadi pengingat keras bahwa kejahatan siber tidak mengenal batas geografis dan sering kali menyalahgunakan teknologi untuk mengeksploitasi kesepian dan kepercayaan para lansia.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook