Liga Basket Afrika (BAL) resmi mencoret tim militer Rwanda, APR, dari kompetisi. Keputusan ini diambil NBA sebagai buntut sanksi Amerika Serikat terhadap pemerintahan Rwanda. Sebelumnya, NBA bungkam soal alasan di balik penarikan tim tersebut, namun kini mereka buka suara setelah desakan dua senator AS.
Dalam suratnya, Senator Jeffrey Merkley dan Marsha Blackburn mempertanyakan komitmen NBA terhadap hak asasi manusia. Mereka menilai NBA berisiko terlibat dalam praktik sportswashing—upaya mencuci citra negara melalui olahraga—karena menerima dana dari negara yang dituduh melanggar HAM. AS sendiri telah menjatuhkan sanksi kepada militer Rwanda pada Maret lalu, tuduhannya karena mendukung kelompok rebel M23 di Kongo.
Meski begitu, Rwanda tetap menjadi mitra resmi BAL dan membayar mahal untuk menjadi tuan rumah babak final di Kigali. Wakil Komisaris NBA, Mark Tatum, memastikan APR tidak akan berlaga selama sanksi AS masih berlaku. Langkah ini menuai sorotan karena Kongo gencar menuntut pemutusan kerja sama olahraga internasional dengan Rwanda, termasuk dengan klub sepak bola Eropa dan Formula 1, agar citra Rwanda tidak terus membaik di mata dunia.