Abdul El-Sayed, senator terpilih dari Michigan yang baru saja mencatat sejarah sebagai Muslim pertama di Senat Amerika Serikat, langsung mengambil langkah politik strategis dengan mendirikan leadership PAC bernama "Habibi PAC". Pendaftaran ini terungkap dalam dokumen Komisi Pemilihan Federal (FEC) pada Kamis lalu, hanya beberapa hari setelah ia memenangkan kursi.
Langkah ini menarik perhatian karena El-Sayed dikenal sebagai politisi yang lantang menyerukan pengeluaran uang dari politik. Leadership PAC sendiri merupakan komite pendanaan terpisah dari kampanye pribadi seorang politisi, yang menurut data OpenSecrets, lazim digunakan para legislator ambisius untuk membangun pengaruh di antara kolega dan memperkuat peluang meraih posisi pimpinan komite.
Nama "Habibi" dipilih bukan tanpa alasan. Istilah bahasa Arab yang berarti "kekasihku" atau "sayangku" itu menjadi ciri khas kampanye El-Sayed, bahkan sempat ia lontarkan langsung kepada Wakil Presiden JD Vance dalam pidato kemenangannya di Detroit. Fenomena ini tidak berdiri sendiri—sejumlah politisi Demokrat baru lainnya juga mendaftarkan leadership PAC dengan nama-nama unik, seperti "PACStreet Boy" milik Amish Shah dan "WheelPAC" milik Josh Turek.
Di balik langkah ini, publik menanti konsistensi El-Sayed terhadap janji kampanyenya. Ia sebelumnya menegaskan bahwa uang rakyat seharusnya digunakan untuk menyelamatkan nyawa di dalam negeri, bukan mengalir ke pemerintah asing. El-Sayed juga menyerukan perlunya mengganti sistem politik yang ada, dengan salah satu janji utamanya adalah mengeluarkan uang dari politik.
Namun, realitas politik Amerika menunjukkan tantangan besar. Pemilu sela kali ini tercatat sebagai yang termahal dalam sejarah, dengan proyeksi total belanja mencapai 11,9 miliar dolar AS—melonjak dari 8,9 miliar dolar AS pada 2022. Belanja dari luar (outside spending) yang didorong oleh super PAC diproyeksikan mencapai 3,9 miliar dolar AS, naik 85 persen. Sementara itu, dark money dari donor tak terungkap telah menembus 1,47 miliar dolar AS, melampaui rekor sebelumnya.
Analisis Dampak: Pendirian Habibi PAC oleh El-Sayed menuai pertanyaan publik tentang konsistensi antara retorika anti-uang-politik dan tindakan nyata. Bagi masyarakat Indonesia, fenomena ini menjadi cermin bagaimana sistem pendanaan politik di negara maju pun masih menyisakan celah bagi aliran dana besar yang sulit diawasi. Publik perlu mencermati apakah El-Sayed akan menggunakan PAC-nya untuk mendukung kandidat yang sejalan dengan agenda reformasi pendanaan, atau justru terjebak dalam permainan yang sama dengan sistem yang ia kritik.