KYIV – Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengambil langkah berani dengan mengirimkan surat terbuka langsung kepada Presiden Rusia Vladimir Putin. Surat ini berisi ajakan untuk bertemu dan bernegosiasi secara langsung guna mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Dalam surat yang dipublikasikan di situs resminya pada Kamis lalu, Zelenskyy secara gamblang mengkritik Putin yang telah menghabiskan hampir setengah dari 26 tahun masa kekuasaannya untuk berperang melawan Ukraina. Ia menyoroti kelelahan rakyat Rusia akibat serangan drone dan rudal Ukraina, serta inflasi dan kelangkaan bahan bakar yang mulai terasa di Negeri Beruang Merah.
“Kita semua bisa melihat bahwa rakyat Rusia mulai tidak nyaman dengan kenyataan bahwa perang ini membawa lebih banyak konsekuensi negatif bagi Rusia,” tulis Zelenskyy dalam suratnya.
Yang paling menarik, Zelenskyy juga menyentuh titik sensitif: stabilitas kekuasaan Putin. Ia mengingatkan bahwa sejarah Rusia membuktikan ketika rakyat lelah, perubahan akan datang. “Setelah 26 tahun berkuasa, usia mulai menunjukkan efeknya. Kelelahan terhadap Anda hanya akan bertambah,” ancamnya.
Di tengah manuver diplomatik ini, situasi di medan perang justru semakin panas. Pada hari yang sama saat surat dikirim, setidaknya 12 orang tewas dan puluhan terluka akibat serangan Rusia di berbagai wilayah Ukraina. Zelenskyy juga mencatat setidaknya 707 anak-anak Ukraina telah menjadi korban jiwa sejak perang dimulai.
Ukraina pun tidak tinggal diam. Mereka melancarkan serangan balasan dengan drone yang menewaskan empat orang di wilayah pendudukan Rusia. Bahkan, Ukraina berhasil menyerang kompleks minyak dan pangkalan angkatan laut di St Petersburg, Rusia, sehari sebelumnya.
Langkah Zelenskyy ini muncul di tengah kebuntuan negosiasi. Sejak invasi skala penuh pada Februari 2022, Rusia dan Ukraina hanya melakukan perundingan tidak langsung tanpa hasil konkret. Mediasi Presiden AS Donald Trump yang mencoba mempertemukan kedua pemimpin pun belum membuahkan hasil.
Analis politik menilai surat terbuka ini adalah strategi cerdas Zelenskyy untuk menekan Putin di panggung internasional. Dengan menyoroti kelelahan rakyat Rusia dan risiko runtuhnya kekuasaan, Zelenskyy ingin menunjukkan bahwa perang ini tidak hanya merugikan Ukraina, tetapi juga menggerogoti stabilitas Kremlin dari dalam.
“Ini adalah permainan psikologis tingkat tinggi. Zelenskyy tidak hanya bicara soal perdamaian, tapi juga mengirim sinyal ke elite Rusia bahwa perang ini bisa menjadi bumerang bagi Putin sendiri,” ujar seorang pengamat hubungan internasional.
Pertanyaan besarnya sekarang: apakah Putin akan menerima ajakan duduk bersama, atau justru menganggap surat ini sebagai bentuk kelemahan Ukraina?