Bulan suci Ramadan tahun ini membawa duka mendalam bagi warga Gaza. Kegembiraan yang seharusnya menghiasi hari-hari puasa kini sirna, digantikan oleh kepedihan akibat perang brutal yang tak berkesudahan, kesulitan ekonomi, serta ancaman pengungsian.
Sejak serangan Israel dimulai Oktober 2023 lalu, Kementerian Kesehatan setempat mencatat setidaknya 72.061 jiwa melayang dan 171.715 lainnya menderita luka-luka. Angka ini terus bertambah seiring hancurnya infrastruktur dan mayoritas penduduk yang terpaksa mengungsi. Mirisnya, apa yang disebut sebagai 'gencatan senjata' pun terasa sangat rapuh, dengan pelanggaran yang dilaporkan terjadi setiap hari.
Warga seperti Fedaa Ayyad dari Kota Gaza mengungkapkan, "Tidak ada lagi sukacita setelah kami kehilangan keluarga dan orang-orang terkasih. Bahkan jika kami mencoba beradaptasi, kami tidak bisa benar-benar merasakan atmosfer Ramadan di hati."
Krisis ekonomi semakin mencekik. Dompet warga menipis, pekerjaan sulit dicari. "Tidak ada uang di kalangan masyarakat. Tidak ada pekerjaan. Ini memang Ramadan, tapi Ramadan butuh uang," keluh Waleed Zaqzouq, warga Kota Gaza, mengingatkan pedagang agar peka terhadap kesulitan ekonomi warga.
Penderitaan diperparah oleh musim dingin yang menusuk tulang, merenggut nyawa anak-anak dan menyebabkan banjir di kamp pengungsian, bahkan meruntuhkan bangunan-bangunan yang sudah rusak. Raed Koheel mengenang, "Dulu, suasana lebih meriah. Jalanan dihiasi lampu. Anak-anak kami bahagia."
Namun, di tengah puing dan kehancuran, secercah harapan tetap menyala. Beberapa warga Palestina berupaya keras mempertahankan tradisi Ramadan. Di Khan Younis, seorang kaligrafer bernama Hani Dahman melukis tulisan 'Selamat Datang Ramadan' di antara reruntuhan, disaksikan anak-anak yang penuh harap. "Kami di sini mengirim pesan kepada dunia bahwa kami adalah orang-orang yang mendambakan kehidupan," tegas Dahman.
Lampu-lampu hias Ramadan yang sederhana kini digantung di antara sisa-sisa bangunan yang hancur. Upaya kecil ini, seperti dikatakan Mohammed Taniri, "Membawa kegembiraan bagi anak-anak. Meski sulit, mereka mencoba menciptakan suasana yang indah." Ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol ketahanan jiwa dan penolakan untuk menyerah pada keputusasaan, bahkan di tengah krisis kemanusiaan yang akut.