Konflik bersenjata di Yaman kembali memasuki babak baru yang lebih panas. Pasukan pemerintah yang didukung koalisi Arab Saudi baru saja meluncurkan operasi militer besar-besaran bertajuk 'Dawn of Yemen' atau Fajar Yaman. Target utamanya jelas: merebut kembali wilayah-wilayah strategis yang selama ini dikuasai kelompok Houthi, termasuk ibu kota Sanaa.
Operasi ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, kelompok Houthi yang didukung Iran berhasil mencatat kemenangan besar dengan menguasai kota pelabuhan Mocha dan area sekitar Selat Bab al-Mandeb—jalur pelayaran internasional yang sangat vital. Kini, pasukan pemerintah berusaha membalikkan keadaan. Mereka mengklaim telah menembus pertahanan Houthi di distrik Medghal, Marib, serta merebut posisi kunci di front selatan seperti al-Muqailat dan Jabal Zajjar.
Intensitas serangan udara dan darat pun meningkat drastis. Juru bicara militer, Kolonel Majid al-Nuzaili, melaporkan bahwa pihaknya telah melancarkan 1.879 serangan presisi, menewaskan 950 pejuang Houthi, dan menghancurkan 380 kendaraan militer. Namun, dampak kemanusiaan mulai terasa. Di Taiz, penembakan dan pertempuran sengit dilaporkan menelan korban jiwa dari warga sipil. Sementara itu, media afiliasi Houthi melaporkan serangan udara yang menghantam Pulau Kamaran dan distrik al-Qanawis di Hodeidah.
Analisis & Dampak: Eskalasi ini berpotensi memperparah krisis kemanusiaan di Yaman yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Perebutan Selat Bab al-Mandeb tidak hanya berdampak pada Yaman, tetapi juga mengancam stabilitas rantai pasok global dan harga minyak dunia. Masyarakat internasional khawatir operasi darat besar-besaran ini akan memicu gelombang pengungsian baru dan memperburuk kelaparan di wilayah yang sudah dilanda perang saudara selama satu dekade.