Serangan mematikan kembali mengguncang Republik Demokratik Kongo (RDK), kali ini menewaskan sedikitnya 43 warga sipil di wilayah timur laut negara itu. Kelompok pemberontak Allied Democratic Forces (ADF) yang berafiliasi dengan ISIS dituding sebagai pelaku di balik aksi brutal ini.
Insiden nahas ini terjadi di Bafwakoa, wilayah Mambasa, Provinsi Ituri, di mana 44 rumah warga juga hangus dibakar. Tidak hanya itu, dua orang dilaporkan diculik dan beberapa korban tewas mengenaskan; ada yang dibacok dengan parang, ada pula yang terbakar di dalam rumah mereka.
Juru bicara militer regional, Letnan Jules Tshikudi Ngongo, pada Kamis (waktu setempat) mengonfirmasi jumlah korban dan kerugian yang terjadi sehari sebelumnya. ADF, yang dulunya adalah kelompok pemberontak Uganda dan kini setia kepada ISIS, memang dikenal kerap menargetkan warga sipil dan telah lama menjadi duri dalam daging bagi stabilitas RDK.
Pihak militer RDK mengakui kesulitan dalam menumpas kelompok ini. Serangan ADF terhadap warga sipil dilaporkan kian intens dalam beberapa bulan terakhir di Ituri dan Provinsi Kivu Utara yang berdekatan. Ironisnya, eskalasi ini terjadi meski operasi militer gabungan RDK dan Uganda telah dilancarkan sejak 2021.
Menurut Ngongo, ADF sengaja menghindari konfrontasi langsung dengan tentara dan sekutunya. Mereka justru menjadikan warga sipil sebagai target untuk menyabotase upaya perdamaian dan sebagai bentuk balas dendam. Data dari Insecurity Insight bahkan menunjukkan bahwa ADF bertanggung jawab atas sekitar seperempat insiden kekerasan terhadap warga sipil di timur RDK antara tahun 2020 hingga 2025.
Situasi ini memperparah krisis kemanusiaan di timur RDK yang memang sudah sangat rentan. Di tengah upaya militer yang gencar, warga sipil menjadi korban utama dari taktik brutal ADF. Selain itu, RDK juga masih harus menghadapi berbagai kelompok pemberontak lain seperti M23 yang didukung Rwanda, yang tahun lalu sempat menguasai Goma dan beberapa kota besar lainnya. Kompleksitas konflik ini menunjukkan betapa sulitnya menciptakan stabilitas dan keamanan bagi masyarakat di wilayah tersebut, menjadikan mereka terjebak dalam lingkaran kekerasan tanpa akhir.