Peru kembali menjadi sorotan dunia setelah Kongresnya mengambil tindakan tegas, memakzulkan Presiden Jose Jeri hanya empat bulan setelah ia menjabat. Keputusan ini menambah panjang daftar presiden Peru yang gagal menuntaskan masa jabatannya, sekaligus menegaskan krisis politik kronis yang melanda negara Andean tersebut.
Presiden Jose Jeri resmi dicopot dari jabatannya pada hari Selasa lalu, menyusul voting mayoritas di Kongres Peru. Pencopotan ini dipicu oleh sederet tuduhan korupsi, terutama dugaan “perdagangan pengaruh” yang melibatkan Jeri.
Salah satu kasus paling mencolok adalah “Chifagate,” di mana Jeri tertangkap kamera media sedang bertemu larut malam dengan pengusaha Tiongkok, Zhihua Yang, di restorannya di Lima. Pertemuan ini disebut tidak tercatat dalam agenda resmi kepresidenan, sebuah pelanggaran hukum di Peru. Jeri bahkan terlihat menyamar, mengenakan hoodie yang menutupi wajahnya, memicu spekulasi lebih lanjut tentang sifat pertemuan tersebut. Pertemuan lain dengan Yang di toko grosirnya, kali ini dengan Jeri memakai kacamata hitam, juga menjadi sorotan publik. Yang sendiri memiliki ikatan dengan pemerintah Peru, bahkan pernah menerima konsesi proyek pembangkit listrik tenaga air di era pemerintahan sebelumnya.
Tak hanya itu, Jeri juga dipertanyakan soal pertemuan malam hari dengan beberapa wanita yang kemudian mendapat kontrak pemerintah, serta tuduhan pelecehan seksual yang sudah ada sejak Desember 2024. Total tujuh mosi tak percaya diajukan terhadap kepresidenannya, dan akhirnya, 75 anggota Kongres memilih untuk melengserkannya.
Penggulingan Jeri ini bukan yang pertama kali terjadi di Peru. Ia adalah presiden ketujuh yang memimpin Peru dalam satu dekade terakhir, dan menyusul pemakzulan dua pendahulunya, Dina Boluarte dan Pedro Castillo. Hal ini menunjukkan betapa rentannya sistem politik Peru terhadap krisis kepemimpinan dan dugaan korupsi yang tak kunjung usai. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian politik yang parah dan bisa berdampak pada stabilitas ekonomi serta kepercayaan investor. Masyarakat Peru mungkin merasa lelah dengan siklus pergantian kepemimpinan yang terus-menerus.
Ironisnya, keputusan ini diambil kurang dari dua bulan menjelang pemilihan umum pada 12 April. Situasi ini tentu akan mempengaruhi dinamika politik dan pilihan publik, serta menambah beban bagi pemerintahan sementara yang akan segera ditunjuk. Kongres Peru dijadwalkan akan memilih presiden interim baru pada Rabu malam waktu setempat.