Partai Demokrat Amerika Serikat tengah menghadapi dilema identitas menjelang pemilihan sela (midterm) pekan depan. Meski peluang menang besar, partai ini justru terbelah antara kubu progresif dan moderat.
Di satu sisi, ada generasi muda seperti James Stevens (24), seorang sosialis demokratis yang mendukung kebijakan radikal seperti layanan kesehatan gratis dan pengusiran uang korporasi dari politik. Di sisi lain, ada ibunya, Tamara (56), seorang Demokrat moderat yang fokus pada hak reproduksi dan mendukung kandidat lokal secara konvensional. Keduanya sepakat ingin Demokrat menang, tapi tidak sepakat soal arah partai ke depan.
Secara elektoral, Demokrat diuntungkan oleh kondisi objektif: approval rating Presiden Trump anjlok ke titik terendah, isu perang Iran yang tidak populer, dan harga bensin yang melambung. Secara historis, partai penguasa biasanya kehilangan kursi di midterm. Namun, survei Real Clear Politics menunjukkan Partai Demokrat sendiri masih memiliki rating tidak disukai (net unfavourability) di mata publik AS. Artinya, kemenangan Demokrat lebih karena kelemahan lawan, bukan karena kekuatan identitas partai itu sendiri.
Analisis Dampak: Krisis identitas ini berisiko membuat Demokrat kesulitan mempertahankan dukungan jangka panjang. Jika menang pun, perpecahan internal antara sayap kiri dan moderat bisa menyulitkan pengambilan kebijakan. Bagi masyarakat AS, ketidakpastian arah partai berarti janji kampanye soal ekonomi dan kesehatan bisa mandek di parlemen.