Krisis ekologis tengah mengintai Taman Nasional Virunga, Republik Demokratik Kongo (DRC). Selama sebulan terakhir, warga di sekitar Sungai Semuliki dikejutkan dengan temuan 28 bangkai kuda nil yang mati mendadak. Hasil uji laboratorium memastikan bahwa kematian massal ini dipicu oleh antraks, penyakit yang disebabkan bakteri Bacillus anthracis.
Kekhawatiran warga semakin memuncak karena wabah ini muncul di tengah pergulatan negara melawan wabah Ebola. Otoritas taman menegaskan bahwa penyakit ini bersifat zoonosis, artinya bisa menular ke manusia jika terjadi kontak langsung dengan hewan mati atau mengonsumsi dagingnya. Mereka pun mengimbau masyarakat agar tidak menyentuh, menguliti, atau memakan bangkai hewan yang ditemukan.
Para ahli ekologi menyoroti bahwa kematian kuda nil ini merupakan pukulan berat bagi ekosistem. Sebagai 'insinyur ekosistem', kuda nil berperan penting dalam menjaga aliran nutrisi dan kondisi habitat. Situasi ini diperparah oleh konflik bersenjata berkepanjangan di wilayah tersebut yang telah memicu perburuan liar dan deforestasi, serta membuat pihak taman kehilangan kendali atas sebagian besar wilayahnya.
Meski begitu, pihak berwenang tengah berfokus pada pengawasan ketat, penanganan bangkai yang aman, serta edukasi kepada warga sekitar untuk mencegah penyebaran lebih luas. Wabah antraks sendiri diketahui pernah terjadi sebelumnya di kawasan ini, terutama saat musim kemarau melanda.