Teheran sedang berupaya keras mempercepat rencana gencatan senjata yang mereka ajukan kepada Amerika Serikat. Di tengah ketegangan kawasan yang bisa memanas kembali kapan saja, Iran mengklaim rencana damai mereka kini sudah disederhanakan dan bisa dieksekusi hanya dalam waktu dua hari.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut rencana tujuh langkah yang diajukan bulan lalu masih sama secara substansi. Namun, implementasinya kini bisa jauh lebih cepat. Jika Amerika Serikat memenuhi tuntutan Teheran, Selat Hormuz akan segera dibuka kembali dan proses negosiasi soal program nuklir Iran bisa langsung dimulai.
Negosiasi ini sendiri masih berjalan alot. Iran terus berkomunikasi dengan mediator dari Qatar dan Pakistan untuk mencari jalan keluar diplomatis dari konflik yang sudah berjalan delapan bulan. Meski Presiden AS Donald Trump menyebut negosiasi berjalan baik, ia sempat memberi sinyal bahwa AS bisa saja melancarkan serangan setelah pemilu sela November nanti.
Menariknya, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dilaporkan telah memberikan wewenang khusus kepada pemerintah untuk mempercepat perundingan dengan AS. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan Iran siap menghadapi dua kemungkinan: diplomasi atau konfrontasi militer. Tuntutan Iran masih sama, yaitu pencabutan blokade laut, penghapusan sanksi, dan jaminan penghentian serangan serta gencatan senjata menyeluruh di kawasan, terutama Lebanon.
Analisis Dampak: Langkah Iran mempercepat rencana ini bisa dilihat sebagai upaya untuk meredakan tensi sebelum potensi eskalasi pasca-pemilu AS. Bagi masyarakat global, terutama pengguna jalur pelayaran internasional, pembukaan Selat Hormuz adalah angin segar yang bisa menstabilkan harga minyak dan rantai pasok global. Namun, karena belum ada kesepakatan final dari Washington, situasi masih sangat dinamis dan rapuh.