Rencana Amerika Serikat dan Israel untuk menyerang Iran disebut memiliki strategi yang cacat. Andreas Krieg, seorang pakar dari Kingโs College London, bahkan mewanti-wanti potensi kegagalan dan dampak serius yang mungkin ditimbulkan di Timur Tengah.
Menurut Krieg, ada kelemahan fundamental dalam pendekatan Washington dan Tel Aviv meskipun mereka punya tujuan jelas. Ia menjelaskan, tujuan di balik rencana serangan ini meliputi pembatasan program nuklir Iran yang kontroversial serta penangkalan pengaruh regional Teheran. Namun, Krieg berpendapat bahwa strategi saat ini justru bisa meleset dari sasaran atau bahkan memperburuk situasi.
Analisis Krieg ini muncul di tengah panasnya kondisi geopolitik Timur Tengah. Konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Hamas di Gaza telah mempercepat ketegangan di seluruh wilayah, dengan potensi eskalasi yang lebih besar menjadi ancaman nyata. Jika AS dan Israel benar-benar melancarkan serangan terhadap Iran, dampak domino diprediksi sangat luas. Ini tidak hanya berisiko memicu serangan balasan dari Teheran dan sekutu proksinya, tetapi juga bisa mengganggu stabilitas ekonomi global, terutama terkait harga minyak dan jalur pelayaran vital seperti Selat Hormuz.
Berbagai laporan media lain juga menyoroti bagaimana Iran terus mengembangkan program nuklirnya, yang dicurigai sebagai kedok pembuatan senjata, meskipun Teheran bersikeras tujuannya damai. Sanksi ekonomi yang berat dari Barat belum mampu menghentikan ambisi Iran, sementara insiden serangan siber, drone, atau rudal antara kedua belah pihak sudah sering terjadi. Kondisi ini membuat setiap langkah militer yang diambil AS dan Israel harus diperhitungkan matang agar tidak memicu kebakaran regional yang lebih besar dan tak terkendali.