PERANG HABISI ISRAEL? EKONOMI BANGKRUT, PM DIBURU ICC - Berita Dunia
← Kembali

PERANG HABISI ISRAEL? EKONOMI BANGKRUT, PM DIBURU ICC

Foto Berita

Perang berkepanjangan ini, menurut para analis, telah membebani Israel secara mendalam. Bank Sentral Israel mencatat, sejak Oktober 2023, biaya perang di Jalur Gaza, melawan Houthi, Lebanon, dan Iran sudah mencapai 352 miliar shekel atau sekitar 112 miliar dolar AS. Angka ini berarti pengeluaran rata-rata harian yang fantastis, sekitar 300 juta shekel (96 juta dolar AS). Kini, Israel bersiap menghadapi konsekuensi finansial yang berpotensi katastropik akibat perang dengan Iran, tanpa ada tanda-tanda akhir yang jelas.

Di panggung internasional, posisi Israel kian terjepit. Mahkamah Internasional (ICJ) telah menyatakan tuduhan genosida yang kredibel terhadap negara itu. Lebih lanjut, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) pada November 2024 bahkan mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri dan mantan Menteri Pertahanan Israel atas dugaan kejahatan perang.

Meskipun Israel menyatakan tujuannya untuk melemahkan kemampuan militer Iran dan memicu pemberontakan publik, realitanya berkata lain. Setelah empat minggu pembombardiran, belum ada tanda-tanda signifikan gejolak di internal Iran. Laporan Reuters pada 27 Maret, mengutip intelijen AS, menyebutkan hanya sepertiga stok rudal Iran yang hancur, bertolak belakang dengan klaim pejabat AS yang menyatakan Iran telah dilumpuhkan secara militer. Para analis pun menilai, akhir konflik ini justru lebih mungkin ditentukan oleh para pembuat kebijakan di Washington ketimbang perencana di Israel.

Di dalam negeri, warga Israel terus menghadapi peringatan serangan udara yang kerap mengganggu rutinitas dan memecah harapan akan normalitas. Langkah darurat, seperti penutupan sekolah, juga menimbulkan tekanan ekstra bagi keluarga. Anehnya, di tengah kelelahan, 78 persen warga Yahudi Israel yang disurvei Israel Democracy Institute pada akhir Maret masih mendukung kelanjutan perang. Namun, ironisnya, mayoritas juga merasa bahwa perencana di AS dan Israel meremehkan kemampuan Tehran. Situasi ini menunjukkan sebuah paradoks yang kompleks: dukungan publik yang kuat namun dengan keraguan yang mendalam terhadap strategi kepemimpinan.

Dampak kumulatif dari serangkaian konflik ini, ditambah dengan isolasi internasional dan tekanan ekonomi, menempatkan Israel pada persimpangan jalan yang genting, menguji ketahanan sosial dan stabilitas masa depannya.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook