PANGKALAN MILITER IRAK HANCUR, SIAPA SEBENARNYA DALANGNYA? - Berita Dunia
← Kembali

PANGKALAN MILITER IRAK HANCUR, SIAPA SEBENARNYA DALANGNYA?

Foto Berita

Irak kembali bergejolak setelah serangan udara dahsyat menghantam pangkalan militer di Provinsi Anbar, Irak barat, menewaskan tujuh pejuang dan melukai belasan lainnya pada hari Rabu. Kementerian Pertahanan Irak mengecam insiden yang menargetkan klinik kesehatan militer di pangkalan Habbaniyah itu sebagai 'kejahatan keji' yang melanggar hukum internasional.

Menurut sumber polisi Irak, serangan ini secara spesifik menyasar posisi Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) yang didukung Iran, sebuah kelompok paramiliter yang berbagi fasilitas dengan tentara reguler Irak. Kejadian ini menandai kali pertama PMF terkena serangan bersamaan dengan militer Irak, sebuah indikasi nyata eskalasi konflik di wilayah tersebut.

Pemerintah Irak, melalui Perdana Menteri Mohammed Shia al-Sudani, menyatakan kekhawatirannya akan negara yang semakin terseret dalam konflik Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Baghdad bahkan akan memanggil duta besar Iran dan AS terkait rentetan serangan ini.

Insiden hari Rabu ini bukan yang pertama. Sehari sebelumnya, pangkalan yang sama juga diserang, menewaskan 15 pejuang termasuk seorang komandan. PMF menuding AS bertanggung jawab atas serangan Selasa itu, yang disebut sebagai yang paling mematikan di Irak sejak 'perang melawan Iran' dimulai pada 28 Februari.

Sebagai respons, pemerintah Irak telah memberikan 'hak untuk membalas' kepada PMF atas setiap agresi. Kementerian Pertahanan Irak menegaskan, 'Kami berhak penuh mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menanggapi agresi ini sesuai kerangka hukum yang berlaku.'

Perlu diketahui, Departemen Pertahanan AS telah mengakui penggunaan helikopter tempur untuk menyerang kelompok bersenjata pro-Iran di Irak selama konflik yang sedang berlangsung. Ini menunjukkan betapa rumitnya situasi di mana Irak kini menjadi medan pertempuran terbuka antara faksi-faksi bersenjata lokal dan Amerika Serikat. Dampaknya, stabilitas regional bisa semakin terancam, dengan potensi spiral kekerasan yang lebih besar.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook