Mantan Menlu AS Hillary Clinton melancarkan kritik tajam terhadap panel kongres yang dipimpin Partai Republik, menuduh penyelidikan terkait terpidana kejahatan seks Jeffrey Epstein sengaja 'melindungi satu partai politik dan satu pejabat publik'. Tuduhan ini muncul saat Clinton dipanggil untuk bersaksi, menambah panasnya politisasi kasus kejahatan yang mengguncang elit Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya yang dirilis secara daring sebelum kemunculannya di depan panel DPR, Hillary tak menahan diri. Ia menyebut penyelidikan ini sebagai 'kegagalan institusional' pemerintah AS dalam mencari kebenaran dan keadilan bagi para korban. Hillary juga menuding para legislator Republik menggunakan sidang tersebut sebagai 'pengalih perhatian' untuk membelokkan isu dari tindakan Presiden Donald Trump, yang namanya juga pernah terseret dalam lingkaran pertemanan Epstein.
Hillary Clinton, bersama suaminya yang juga mantan Presiden AS Bill Clinton, dijadwalkan bersaksi di hadapan panel yang sama. Pasangan ini bersikeras tidak tahu-menahu soal aktivitas kriminal Epstein dan mengaku sudah memberikan semua informasi yang relevan kepada para anggota parlemen. Mereka bahkan sempat terancam tuduhan penghinaan karena awalnya menolak hadir secara langsung.
Polemik ini kembali menghidupkan sorotan pada upaya mencari akuntabilitas bagi pihak-pihak yang mungkin terlibat atau melindungi Epstein dari jerat hukum. Jeffrey Epstein sendiri adalah seorang finansier kaya raya dengan jaringan luas di dunia politik, akademisi, hingga seni. Lingkaran pertemanannya mencakup individu-individu berdaya tinggi, termasuk Bill Clinton dan Donald Trump. Ia terbukti sebagai pelaku kejahatan seks dan para ahli memperkirakan korbannya mencapai ratusan orang.
Epstein sempat dijatuhi hukuman pada 2008, namun hanya menjalani 13 bulan dari vonis 18 bulan penjara berkat kesepakatan yang dinilai terlalu ringan. Pada 2019, ia didakwa atas kasus perdagangan seks, tetapi meninggal dunia akibat dugaan bunuh diri saat dalam tahanan, menunggu persidangan. Kematiannya yang misterius masih menyisakan banyak pertanyaan dan spekulasi tentang sejauh mana pengaruh lingkaran sosialnya membantu kejahatannya.
Tuduhan politisasi penyelidikan ini oleh Hillary Clinton kian memperkeruh upaya mengungkap kebenaran. Ini juga menguatkan kekhawatiran publik bahwa keadilan bagi ratusan korban Epstein bisa tersandera oleh kepentingan politik, di mana satu pihak dituduh melindungi sekutunya dan pihak lain mencoba mengalihkan isu. Kasus ini menjadi pengingat penting tentang bagaimana kejahatan serius berisiko dimanfaatkan untuk agenda politik, berpotensi mengaburkan fakta dan merugikan korban yang seharusnya menjadi fokus utama.