BBC melaporkan, tren baru yang menghebohkan muncul di media sosial Rusia sejak pertengahan 2025. Keluarga tentara yang hilang atau tewas di Ukraina menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membuat video deepfake yang menggambarkan prajurit mereka pulang dengan selamat.
Dalam video-video tersebut, tentara digambarkan sebagai pahlawan yang kembali ke pelukan keluarga. Salah satu unggahan viral menampilkan seorang istri yang mendorong kereta bayi dan berlari memeluk suaminya yang berseragam militer di jalanan Moskow bersalju. Padahal, suami dari pembuat konten itu sendiri masih hilang di medan perang.
Fenomena ini dipicu oleh seorang blogger populer dengan nama pena Katya Jin. Ia sempat mengunggah konten AI ke 10 juta pengikutnya di TikTok dan 50 ribu di Instagram, bahkan menawarkan jasa pembuatan video serupa dengan bayaran. Pelanggan cukup mengirimkan foto, dan AI akan menganimasikannya menjadi adegan pertemuan yang dramatis.
Praktik ini menuai kontroversi tajam. Bagi sebagian keluarga yang berduka, ini menjadi cara untuk berduka dan mengingat orang tercinta. Namun, banyak pihak, termasuk warga Ukraina, menganggapnya sangat tidak etis dan mengerikan karena menghapus realitas kehancuran akibat perang. Peneliti dari Universitas Cambridge, Katarzyna Nowaczyk-BasiĆska, memperingatkan bahwa dampak psikologis jangka panjang dari 'deadbots' ini masih belum diketahui dan sangat kompleks secara etika.
Menariknya, setelah diberitakan BBC, Katya Jin menghapus seluruh konten AI-nya dari Instagram dan TikTok. Namun, jejak digitalnya menunjukkan bahwa puluhan orang telah memesan jasa serupa untuk mendiang kerabat mereka.