London, Inggris – Goldsmiths, University of London, kampus bergengsi di bidang seni dan humaniora, kini terancam kolaps. Staf pengajar dan administrasi melakukan mogok kerja tanpa batas waktu sejak Juni 2024. Aksi ini buntut dari rencana manajemen yang ingin memotong 22 juta poundsterling (sekitar Rp 475 miliar) dengan cara memberhentikan lebih dari 20 persen karyawan.
Ini adalah restrukturisasi ketiga dalam lima tahun terakhir. Sebelumnya, manajemen sempat melakukan aksi 'lockout' alias memotong 100 persen gaji staf yang ikut boikot penilaian tugas mahasiswa. Alhasil, serikat pekerja (UCU) memutuskan mogok total karena dianggap bekerja tanpa dibayar.
Yang menarik, utang kampus ini ternyata terikat perjanjian ketat dengan bank. Untuk mendapatkan kredit, Goldsmiths harus menjaminkan aset senilai 60 juta pound dan setuju melakukan efisiensi besar-besaran. Manajemen bahkan menggandeng konsultan KPMG yang terkenal dengan pendekatan korporat, bukan kepentingan akademik.
Analisis Dampak: Kasus ini jadi cermin buruknya komersialisasi pendidikan tinggi di Inggris. Ketika kampus dipaksa berpikir seperti perusahaan, yang pertama dikorbankan adalah tenaga pengajar dan program studi seni yang tidak 'menguntungkan'. Dampaknya, kualitas pendidikan merosot dan kreativitas mahasiswa terhambat. Di Indonesia, fenomena serupa mulai terlihat di beberapa kampus swasta yang lebih fokus pada jumlah mahasiswa baru daripada mutu pengajaran.