Konflik bersenjata di Sudan kian mencekam. Dalam beberapa hari terakhir, gelombang serangan pesawat nirawak (drone) dilaporkan telah menewaskan lebih dari 160 orang di berbagai wilayah. Kelompok pemantau hak asasi manusia menyebut serangan ini tidak pandang bulu, menyasar warga sipil hingga fasilitas umum.
Insiden paling mematikan terjadi di Kota Al-Dibab, Kordofan Barat. Sebuah drone menyerang pusat transportasi tempat warga berkumpul usai aktivitas pasar. Akibatnya, 80 orang tewas di lokasi, sementara puluhan lainnya meninggal setelah dilarikan ke rumah sakit. Tragedi ini menambah daftar panjang korban jiwa dari kedua belah pihak, baik tentara pemerintah maupun pasukan paramiliter RSF yang saling tuduh soal siapa pelakunya.
Selain di Kordofan, serangan udara juga menghantam ibu kota Khartoum yang menewaskan tiga anak, serta wilayah Nyala dan Provinsi Blue Nile. PBB menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan ini. Juru bicara Sekjen PBB menegaskan bahwa serangan drone tidak hanya membunuh warga sipil, tapi juga melumpuhkan layanan publik yang krusial.
Perang saudara yang dimulai sejak April 2023 ini telah memasuki tahun keempat. Data ACLED mencatat setidaknya 59.000 nyawa melayang, meski angka riil diyakini lebih tinggi. Dampaknya pun sangat masif: sekitar 13 juta orang terpaksa mengungsi, menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di dunia saat ini. Masyarakat Sudan kini hidup dalam bayang-bayang kematian, karena teknologi drone yang seharusnya mempermudah hidup justru menjadi alat pembunuh massal yang sulit diprediksi.