Jakarta, 2026 – Bintang pop Amerika Serikat, Ariana Grande, secara terang-terangan memprotes Gedung Putih yang menggunakan lagunya untuk kampanye kebijakan imigrasi pemerintahan Donald Trump. Dalam unggahan TikTok resmi Gedung Putih pada Senin lalu, lagu hits Ariana tahun 2024 berjudul 'Bye' menjadi latar video yang memperlihatkan petugas imigrasi memborgol dan menggiring orang-orang ke pusat penahanan.
Video tersebut diberi keterangan: 'Bye-bye... Presiden Trump telah menghadirkan perbatasan paling aman dalam sejarah.' Ariana langsung bereaksi di kolom komentar, meminta agar lagunya tidak digunakan untuk mendukung kebijakan yang ia sebut 'biadab, tidak manusiawi, dan mengerikan.'
Gedung Putih bukannya diam. Juru Bicara Gedung Putih, Abigail Jackson, membalas dengan pernyataan keras, mengatakan bahwa yang biadab dan tidak manusiawi adalah imigran ilegal kriminal yang melukai dan membunuh warga negara Amerika. Setelah protes Ariana, video tersebut langsung dibisukan (mute) dan komentar sang penyanyi dihapus.
Aksi Ariana ini bukanlah yang pertama. Ia bergabung dengan sederet musisi top dunia seperti Sabrina Carpenter, ABBA, Celine Dion, dan Beyonce yang sebelumnya juga melarang tim kampanye Trump menggunakan karya mereka untuk kepentingan politik. Sabrina Carpenter bahkan pernah menulis, 'Jangan pernah libatkan saya atau musik saya untuk agenda tidak manusiawi Anda.'
Analisis Dampak: Bentrokan ini menunjukkan betapa tajamnya polarisasi politik di AS, bahkan hingga ke ranah budaya pop. Bagi publik, ini menjadi pengingat bahwa musisi memiliki kendali penuh atas karya mereka dan bisa menjadi kekuatan politik yang vokal. Di sisi lain, langkah Gedung Putih yang tetap memaksakan penggunaan lagu tersebut bisa memicu backlash dari para penggemar Ariana yang jumlahnya masif, terutama generasi muda yang cenderung kritis terhadap kebijakan imigrasi yang ketat.