Seorang ibu asal Iran, Samira, mengungkap kisah pilu di balik kematian putri semata wayangnya, Sevda (16 tahun), yang tewas ditembak aparat keamanan saat aksi protes besar-besaran di Iran. Kepada BBC Panorama, Samira menceritakan bahwa hidupnya berubah total sejak insiden tersebut. Ia mengaku sebelumnya bukan orang yang tertarik pada politik dan hanya bekerja di bidang penjualan kosmetik.
Sevda tewas pada 9 Januari saat ia dan ibunya ikut demonstrasi di pinggiran Teheran. Aksi yang awalnya dipicu ketidakpuasan ekonomi itu berkembang menjadi seruan menumbangkan Republik Islam Iran. Setelah kejadian itu, duka Samira berubah menjadi amarah karena otoritas Iran justru mempersulit, bukan membantu, proses pencarian jasad putrinya. Ia menyebut pencarian jasad Sevda hanyalah awal dari serangkaian intimidasi yang ia alami.
Kini, Samira hidup bersembunyi di luar negeri setelah melarikan diri dari Iran melalui jalur pegunungan yang berbahaya. Ia menyebut dirinya sebagai "tentara satu orang" yang melawan rezim dan bertekad menuntut keadilan dengan menyebut nama-nama anggota aparat keamanan yang ia yakini bertanggung jawab atas penembakan mematikan tersebut. Kisah Samira menjadi salah satu dari sejumlah kesaksian warga Iran yang dihimpun BBC, di mana sebagian narasumber masih berada di dalam negeri dan memilih bersuara meski berisiko tinggi.
Di sisi lain, Kedutaan Iran di London membantah tuduhan tersebut. Mereka menilai aksi protes damai telah dibajak oleh kekuatan asing, termasuk Amerika Serikat, yang dituding memicu kekerasan dan menyuplai senjata. Peristiwa ini menjadi potret kelam penegakan hak asasi manusia di Iran, di mana masyarakat sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, berada di garis depan risiko. Kisah ini juga menyoroti bagaimana akses keadilan bagi keluarga korban sangat tertutup, sementara tekanan internasional terus meningkat terhadap pemerintahan yang dianggap represif.