Abdul El-Sayed, politisi Partai Demokrat berusia 42 tahun, mencatat sejarah baru sebagai senator Muslim pertama di Amerika Serikat setelah mengalahkan kandidat pilihan Trump, Mike Rogers, di Michigan. Kemenangan ini bukan sekadar soal rekor, tapi juga jadi panggung bagi El-Sayed untuk membalas sindiran rasial yang dilontarkan Trump dan JD Vance selama kampanye.
Dalam pidato kemenangannya, El-Sayed menyindir Vance yang pernah menyebutnya 'psikopat' dan Trump yang melabelinya 'jihadis'. Dengan gaya santai, ia mengingatkan Vance bahwa secara konstitusi, Vance yang akan menyumpahnya jabatannya sebagai senator pada Januari nanti. 'JD, habibi, ini ironi. Kamu wajib sumpah saya bulan Januari,' ujarnya disambut sorakan pendukung. Ia juga menyinggung Trump yang sering mengejek namanya, dengan mengatakan, 'Donald, saya tahu kamu kesulitan dengan nama saya, jadi saat JD menyumpah saya, panggil saja saya Senator.'
Kemenangan El-Sayed dengan lebih dari 52 persen suara ini dianggap sebagai terobosan bagi kubu progresif di Partai Demokrat yang selama ini mengkritik ketimpangan ekonomi dan kebijakan perang AS di luar negeri. Selain itu, kemenangannya di Michigan—negara bagian swing yang dimenangkan Trump dua tahun lalu—menjadi sinyal kuat bahwa isu ekonomi dan biaya hidup lebih resonan bagi pemilih dibandingkan politik identitas.
Dalam pidatonya, El-Sayed juga menyoroti kesulitan ekonomi yang dirasakan warga biasa. 'Michigan, seharusnya tidak sesulit ini untuk beli sekantong belanjaan lagi atau isi bensin,' katanya. 'Seharusnya tidak sesulit ini untuk bayar pajak dan tahu uangnya dipakai untuk rakyat, bukan untuk menjatuhkan bom ke anak-anak orang lain.'
Dampaknya bagi masyarakat AS, khususnya komunitas Muslim dan imigran, kemenangan ini menjadi simbol perlawanan terhadap retorika anti-Islam dan politik identitas yang kerap dimainkan lawan politik. Namun, tantangan ke depan tidak ringan: El-Sayed harus membuktikan bahwa ia bisa membawa perubahan nyata di Senat, terutama dalam isu ekonomi dan kebijakan luar negeri yang selama ini jadi kritik utamanya.