Jakarta - Ada paradoks besar di India: ekonomi mereka tumbuh di atas 7%, tapi pasar sahamnya justru jadi salah satu yang terburuk di dunia sepanjang 2026. Indeks acuan Sensex dan Nifty bahkan sempat catat rekor buruk, yaitu delapan minggu berturut-turut merugi, yang terpanjang dalam 25 tahun terakhir.
Investor ritel lokal yang menaruh uang di reksa dana dan saham harus gigit jari. Kekayaan mereka tergerus sekitar 15% tahun ini. Bandingkan dengan pasar Korea yang naik 62% sejak Januari. Yang lebih pahit, dana investor asing yang masuk ke India selama satu dekade terakhir kini hampir nol setelah dikurangi penarikan. Dalam dua tahun terakhir saja, investor institusi asing kabur membawa uang sekitar USD 40 miliar.
Selama ini pasar India memang diselamatkan oleh dana domestik yang deras. Aset reksa dana meledak dari USD 125 miliar pada 2016 jadi USD 900 miliar tahun ini, dengan jumlah investor ritel menembus 150 juta orang. Tapi justru inilah yang bikin khawatir: rumah tangga yang sudah tercekik pasar kerja lemah dan inflasi tinggi kini harus melihat tabungan sahamnya ikut amblas.
Lalu apa penyebabnya? Salah satu biang keroknya adalah harga minyak mentah yang bertahan di USD 90-100 per barel imbas gangguan pengiriman di Selat Hormuz yang sudah delapan bulan berlangsung. India mengimpor lebih dari 90% kebutuhan minyaknya, dan hampir separuh lewat jalur itu. Menurut fund manager Franklin Templeton, Hari Shyamsunder, pasar masih bisa tahan di level USD 70-90, tapi begitu tembus USD 100, tekanan ke inflasi dan laba perusahaan langsung terasa. Situasi makin rumit karena ancaman tarif hingga 100% dari Presiden AS Donald Trump bagi negara yang berdagang dengan Rusia.