AS GEMPUR IRAM HARI KE-6, SELAT HORMUZ MASHOK - Berita Dunia
← Kembali

AS GEMPUR IRAM HARI KE-6, SELAT HORMUZ MASHOK

Foto Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran untuk malam keenam berturut-turut. Komando Pusat AS (Centcom) menyebut serangan pada Kamis (30/1) itu bertujuan untuk 'menghancurkan kemampuan militer Iran' lebih lanjut.

Media Iran melaporkan rudal AS menghantam dekat Pulau Qeshm di Selat Hormuz, serta kota Bandar Abbas dan Bushehr—lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir. Serangan ini terjadi setelah kedua pihak saling membalas tembakan semalaman, mengancam kesepakatan awal yang sempat mereka capai.

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan Presiden Donald Trump masih terbuka untuk dialog dengan Iran. 'Presiden akan meminta pertanggungjawaban mereka jika mengingkari kata-kata mereka. Namun, ia selalu terbuka pada diplomasi,' ujarnya. Leavitt menambahkan Iran masih menyatakan ingin berdamai dengan AS, 'tapi presiden tidak akan membiarkan mereka menembaki kapal di selat tanpa konsekuensi.'

Selat Hormuz—jalur minyak paling vital di dunia—masih ditutup setelah Iran memblokirnya sebagai respons terhadap serangan AS-Israel. Iran juga mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Sementara AS melancarkan serangan enam jam di beberapa titik di selat tersebut.

Ketegangan ini dipicu peringatan Trump yang meminta Iran 'bersikap baik' atau menghadapi aksi militer lebih lanjut. Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan Teheran tidak punya alasan untuk mematuhi kesepakatan yang tidak menguntungkan mereka.

Di tengah konflik, Trump memuji Iran yang membebaskan warga AS, Dena Karari, yang ditahan sejak Desember 2024. Namun, pengadilan Iran membantah telah membebaskan tahanan AS mana pun.

Analisis Dampak: Penutupan Selat Hormuz bisa memicu lonjakan harga minyak global hingga 30 persen, mengingat 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Masyarakat Indonesia harus bersiap menghadapi potensi kenaikan harga BBM dan bahan pokok jika konflik berkepanjangan. Para analis memperingatkan situasi ini bisa menjadi 'perang proksi' yang melibatkan negara-negara Teluk lainnya.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook