Buenos Aires, 10 Desember 2025 – Euforia kemenangan Argentina atas Inggris di semifinal Piala Dunia berubah menjadi kontroversi politik. Usai menang dramatis 2-1, para pemain Argentina berpesta di lapangan sambil membentangkan spanduk bertuliskan 'Las Malvinas Son Argentinas' atau 'Kepulauan Falkland Milik Argentina'. Tindakan ini langsung memicu reaksi keras dari berbagai pihak dan berpotensi membuat mereka dijatuhi sanksi oleh FIFA.
Spanduk tersebut bukan sekadar selebrasi biasa. Kepulauan Falkland, yang oleh Argentina disebut Malvinas, memang menjadi luka sejarah yang dalam bagi warga Argentina. Inggris menguasai wilayah itu sejak 1833, dan perebutan wilayah tersebut memicu perang 74 hari pada 1982 yang menewaskan ratusan tentara dari kedua sisi. Kekalahan dalam perang itu meninggalkan trauma yang hingga kini masih terasa.
Wakil Presiden Argentina, Victoria Villarruel, yang juga putri veteran perang Falkland, langsung menyambut aksi tersebut dengan pernyataan berapi-api di media sosial. 'Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina! Mereka melarang spanduk itu dibawa ke stadion, tapi lupa bahwa kami membawanya di dalam darah dan hati kami,' tulisnya. Ia bahkan menyebut timnas Inggris sebagai 'bajak laut perampas'.
Analis politik menilai aksi ini menandakan kembalinya isu Falkland sebagai alat politik utama di Argentina. Pemerintahan Presiden Javier Milei yang dikenal dekat dengan Donald Trump disebut sengaja mengobarkan kembali sentimen nasionalisme ini untuk mengalihkan perhatian dari masalah domestik. Sementara itu, FIFA kini berada di bawah tekanan untuk menegakkan kode etik yang melarang atribut politik di stadion.
Dampaknya, hubungan diplomatik Inggris-Argentina yang belakangan mulai mencair diprediksi kembali memanas. Bagi masyarakat Indonesia, konflik ini mengingatkan kita pada pentingnya diplomasi dalam menyelesaikan sengketa wilayah, serta bagaimana olahraga bisa menjadi panggung politik yang sangat sensitif.