Presiden Prancis Emmanuel Macron membuat gebrakan yang cukup mengejutkan. Ia mengumumkan rencana besar untuk memperkuat arsenal nuklir negaranya dan makin merapatkan barisan dengan negara-negara Uni Eropa dalam hal pertahanan. Kebijakan yang ia sebut sebagai “pencegahan ke depan” ini datang tak lama setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran.
Langkah Macron ini bukan sekadar pamer kekuatan. Ini adalah sinyal jelas bahwa di tengah dinamika dunia yang berubah cepat, Eropa ingin lebih mandiri. Apalagi, belakangan muncul keraguan di antara sekutu Eropa untuk terus bergantung pada perlindungan nuklir dari Amerika Serikat. Saat ini, Prancis sendiri tercatat memiliki arsenal nuklir terbesar keempat di dunia.
“Yang paling saya inginkan, seperti yang Anda pahami, adalah agar Eropa kembali mengendalikan takdirnya sendiri,” tegas Macron, menggarisbawahi ambisi otonomi strategis Eropa. Pernyataan ini sontak memicu banyak pertanyaan tentang masa depan keamanan benua biru.
Beberapa pihak menilai ini adalah momen penting bagi keamanan Eropa. Namun, menurut analis geopolitik Gregoire Roos, retorika Macron justru lebih banyak menegaskan kembali kebijakan nuklir Prancis yang sudah lama dianut. Sejak memiliki senjata nuklir di tahun 60-an, Prancis selalu punya definisi “kepentingan vital” yang melampaui batas negara, dengan dimensi Eropa yang sangat kuat.
Prancis memang sengaja tidak terlalu spesifik soal cakupan geografis "kepentingan vital" ini. Roos menjelaskan, “Macron menekankan bahwa bagi Prancis, ruang lingkup kepentingan vital jauh lebih luas dari yang banyak orang kira. Penting juga untuk tetap ambigu soal cakupan geografis pastinya.”
Kebijakan Macron ini mengukuhkan kembali doktrin strategi nuklir Prancis yang digagas Jenderal Charles de Gaulle. Kala itu, doktrin Gaullist menganggap pencegahan nuklir sebagai pelindung wilayah Prancis dan jaminan kemerdekaan politik. Namun, Macron juga menegaskan bahwa kekuatan nuklir Prancis tetaplah berdaulat. “Tidak ada yang namanya berbagi kode nuklir atau keputusan terkait senjata nuklir,” jelas Roos.
Untuk menambah ambiguitas strategisnya, Prancis juga akan berhenti mengumumkan jumlah hulu ledak nuklirnya yang saat ini diperkirakan sekitar 290 unit. Selain itu, Prancis berencana bekerja sama lebih erat dengan Inggris, satu-satunya negara tetangga yang juga memiliki senjata nuklir, serta negara-negara seperti Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, dan Denmark.
Ini berarti ada potensi penempatan jet tempur Prancis pembawa senjata nuklir di wilayah negara-negara Eropa lainnya. Di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah dan program nuklir Iran yang jadi sorotan, langkah Prancis ini jelas menunjukkan upaya Eropa untuk memiliki suara dan kekuatan sendiri di panggung global, tidak hanya sekadar mengikuti alur kekuatan besar lainnya.