MISTERI RATUSAN ORANG HILANG DI YAMEN - Berita Dunia
← Kembali

MISTERI RATUSAN ORANG HILANG DI YAMEN

Foto Berita

Sanaa, Yaman - Konflik berkepanjangan di Yaman meninggalkan luka mendalam bagi ratusan keluarga yang hingga kini tidak mengetahui nasib anggota keluarganya. Sejak perang meletus pada September 2014, ketika kelompok Houthi menguasai ibu kota dan memaksa pemerintah yang diakui internasional mengungsi ke selatan, ratusan orang dilaporkan menghilang tanpa jejak.

Kisah pilu datang dari keluarga Munif, seorang pemuda 18 tahun yang pergi meninggalkan rumahnya di Sanaa pada 2020 untuk bergabung dengan pasukan Houthi di garis depan. Enam bulan kemudian, rekan-rekannya kembali ke keluarga masing-masing, tetapi Munif tidak pernah pulang. Lebih dari enam tahun berlalu, keluarganya masih mencari jawaban tentang nasibnya.

"Sepuluh pria lain dari desa kami bergabung ke garis depan di perbatasan Saudi-Yaman. Semuanya kembali. Kami bertanya kepada mereka tentang keberadaan saudara saya, tetapi tidak ada yang bisa memberi tahu di mana dia pergi," ujar Mohammed, saudara Munif, seperti dikutip dari Al Jazeera.

Mohammed menduga ada dua kemungkinan yang menimpa adiknya: tewas dalam serangan udara hingga jasadnya tidak ditemukan, atau ditawan oleh pasukan pemerintah. "Kami hanya perlu tahu apa yang terjadi padanya," katanya penuh harap.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mencatat telah menerima lebih dari 1.800 permintaan pencarian dari keluarga yang kehilangan kerabat di Yaman sejak Juli tahun ini. Namun, harapan untuk menemukan jawaban kembali pupus setelah pertempuran kembali berkobar pada Juli, menghentikan upaya pencarian bagi banyak keluarga.

Meskipun gencatan senjata pada 2022 sempat membuka harapan baru, implementasi kesepakatan pertukaran tahanan yang ditengahi PBB pada Mei lalu justru terhambat. Pemerintah Yaman dan Houthi saling menuduh menghalangi perjanjian untuk membebaskan lebih dari 1.600 tahanan tersebut.

Dampaknya bagi masyarakat Yaman sangat besar. Ketidakpastian nasib anggota keluarga menciptakan trauma berkepanjangan dan menghambat proses rekonsiliasi pasca-konflik. Tanpa kejelasan status, keluarga tidak dapat memulai proses berkabung atau melanjutkan hidup dengan tenang. Situasi ini juga memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah parah di negara tersebut.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook