Di tengah sorotan dunia yang mulai mereda pasca 'gencatan senjata' di Gaza, realita pahit justru terus mencengkeram. Sektor kesehatan di Jalur Gaza tak kunjung pulih, bahkan disebut kian terpuruk akibat kelangkaan obat-obatan, minimnya alat medis, dan rusaknya fasilitas secara sistematis.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Zaher al-Wahidi, membeberkan bahwa meski ada 'gencatan senjata' yang dimediasi Amerika Serikat Oktober lalu, kondisi kesehatan di Gaza jauh dari kata membaik. Ia menyebut, selama 28 bulan blokade, bombardir, dan pembunuhan massal, sistem kesehatan di sana telah sengaja dihancurkan. Setidaknya ada lima masalah utama yang dihadapi: evakuasi pasien yang hampir mustahil, kelangkaan alat medis, kekurangan obat, fasilitas yang hancur lebur, dan krisis tenaga kesehatan.
Kondisi ini diperparah dengan defisit obat-obatan yang justru makin memburuk pasca gencatan senjata, kini mencapai 52 persen secara keseluruhan, dan bahkan 62 persen untuk penyakit kronis. Ini berarti ribuan penderita penyakit menahun tidak bisa mengakses pengobatan rutin, yang ujungnya adalah memburuknya kondisi kesehatan dan kematian. Contoh paling nyata adalah pasien ginjal; dari 1.244 orang sebelum Oktober 2023, kini tinggal 622. Ratusan lainnya diperkirakan meninggal bukan karena serangan langsung, melainkan karena tidak mendapat layanan dialisis.
Pakar kesehatan publik dari University of Central Florida, Yara Asi, menambahkan bahwa perhatian dunia terhadap krisis ini seringkali 'berumur pendek', membuat para donor dan aktor internasional lengah. "Gencatan senjata memang sedikit meredakan intensitas, tapi kondisi dasar dan kebutuhan tetap sama. Puluhan ribu orang yang terluka masih menderita," ujarnya.
Kondisi memprihatinkan ini jelas menegaskan bahwa fokus dunia tidak cukup hanya pada evakuasi segelintir korban luka melalui perbatasan Rafah yang dibuka sebagian. Prioritas utama haruslah pembangunan kembali sistem kesehatan Gaza secara menyeluruh. Al-Wahidi pun menyerukan kepada masyarakat internasional agar menekan Israel untuk membuka sepenuhnya perbatasan Rafah, mengizinkan masuknya obat-obatan, peralatan medis, serta tim spesialis untuk membantu para pekerja kesehatan yang kewalahan. Tanpa intervensi serius, Gaza akan terus menghadapi bencana kemanusiaan yang lebih besar, jauh dari sorotan kamera.