DIWALI DISOROT: TRADISI CAHAYA VS ANCAMAN POLUSI UDARA - Berita Dunia
← Kembali

DIWALI DISOROT: TRADISI CAHAYA VS ANCAMAN POLUSI UDARA

Foto Berita

JAKARTA - Perayaan Diwali, festival cahaya umat Hindu yang paling dinanti, kembali digelar di seluruh India. Jutaan orang menyalakan lampu minyak (diyas) dan kembang api untuk merayakan kemenangan cahaya atas kegelapan. Namun, kemeriahan ini kembali dibayangi masalah klasik: polusi udara yang memburuk, terutama di wilayah utara India.

Festival yang jatuh pada malam tergelap dalam kalender lunar Hindu ini bukan sekadar ritual keagamaan. Diwali telah menjadi ajang budaya yang inklusif, melibatkan berbagai lapisan masyarakat untuk berkumpul, bertukar hadiah, dan menikmati hidangan manis tradisional. Namun, dampak lingkungan dari perayaan ini menjadi sorotan tajam.

Data menunjukkan kualitas udara di New Delhi berada pada level 'sangat buruk' dengan indeks kualitas udara (AQI) menyentuh angka 391 menjelang perayaan. Kondisi ini diperparah oleh kombinasi cuaca musiman dan pembakaran sisa panen. Meski Mahkamah Agung India telah mengizinkan penggunaan petasan 'ramah lingkungan' yang diklaim mengurangi emisi hingga 30 persen, efektivitasnya masih dipertanyakan. Kekhawatiran muncul karena petasan konvensional dari negara bagian tetangga masih berpotensi masuk dan memperparah polusi.

Selain isu lingkungan, esensi Diwali tetap terjaga. Perayaan ini memperingati kembalinya Rama ke Ayodhya setelah mengalahkan Ravana, simbol kemenangan kebaikan. Rumah-rumah dibersihkan dan dihias dengan rangoli berwarna-warni, sementara pasar-pasar dipenuhi pembeli yang mencari kebutuhan festif. Analisis singkatnya, Diwali adalah contoh nyata bagaimana tradisi kuno harus berhadapan dengan tantangan modern seperti krisis iklim dan polusi, memaksa masyarakat untuk mencari keseimbangan antara melestarikan budaya dan menjaga kesehatan lingkungan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook