Jakarta - Hubungan erat antara Partai Republik Amerika Serikat dan Israel ternyata bukan sekadar soal strategi militer atau diplomasi biasa. Akar dari aliansi kuat ini adalah Christian Zionism, sebuah keyakinan politik-religius yang sudah tertanam sejak lebih dari setengah abad lalu dan kini mulai diuji oleh faksi baru di dalam partai, terutama dari kalangan Republikan muda dan pendukung gerakan America First.
Sejarah mencatat bagaimana pengaruh tokoh evangelis seperti Billy Graham pada era Nixon hingga Jerry Falwell lewat Moral Majority berhasil mengubah dukungan terhadap Israel menjadi komoditas politik elektoral. Bagi banyak pemilih evangelis, Israel bukan hanya sekutu strategis, melainkan bagian dari nubuat alkitabiah tentang akhir zaman. Keyakinan ini kemudian dilembagakan oleh figur seperti John Hagee melalui Christians United for Israel, menciptakan infrastruktur politik yang bertahan lintas generasi.
Warisan ini masih terlihat jelas pada kepemimpinan Republik saat ini. Ketua DPR Mike Johnson kerap mengutip ayat Alkitab untuk menggambarkan hubungan AS-Israel. Senator Ted Cruz membingkai dukungannya secara eksplisit sebagai komitmen Kristiani, sementara Senator Tom Cotton mencoba mengubah terminologi federal dari 'West Bank' menjadi 'Judea dan Samaria'—sebuah langkah yang memasukkan bahasa religius ke dalam kebijakan pemerintah. Mike Huckabee, kini Duta Besar AS untuk Israel, juga mencerminkan pandangan dunia di mana klaim alkitabiah memiliki bobot politik yang besar.
Namun, konsensus lama ini mulai retak. Munculnya sayap America First dan Republikan muda yang lebih isolasionis mulai mempertanyakan relevansi doktrin religius dalam kebijakan luar negeri. Mereka cenderung melihat bantuan militer AS ke Israel sebagai beban fiskal yang tidak sejalan dengan prioritas domestik. Pergeseran ini berpotensi mengubah lanskap politik AS, terutama menjelang pemilu mendatang, di mana suara evangelis yang dulu solid kini harus bersaing dengan sentimen nasionalis-populis yang tumbuh di kalangan basis partai.