VATIKAN - Pemimpin tertinggi Gereja Katolik, Paus Leo, mengumumkan rencana operasi pengangkatan benjolan kecil di paru-parunya dalam beberapa hari ke depan. Kabar ini disampaikan langsung oleh pria berusia 71 tahun tersebut saat memberikan berkat mingguan di Lapangan Santo Petrus, Minggu lalu.
Menurut Paus Leo, benjolan tersebut terdeteksi pada tahap yang sangat awal dan ukurannya masih terbatas. "Dokter menilai tindakan operasi adalah langkah terbaik, jadi saya mengikuti saran mereka," ujarnya dalam bahasa Italia. Pihak Vatikan menyebutkan bahwa masa pemulihan diperkirakan memakan waktu sekitar satu minggu, meski belum ada konfirmasi resmi mengenai sifat jinak atau ganas dari benjolan tersebut.
Secara medis, benjolan pada paru-paru atau lung nodule memang sering ditemukan dan sebagian besar bersifat jinak. Data dari American Thoracic Society mencatat kurang dari lima persen benjolan paru-paru yang berujung menjadi kanker, meski risikonya meningkat seiring bertambahnya usia dan kebiasaan merokok. Pakar onkologi dari Georgetown University, Stephen Liu, menegaskan bahwa temuan semacam ini adalah hal umum dan biasanya tidak berbahaya.
Meski dikenal aktif secara fisik dengan rutinitas tenis mingguan dan berenang, operasi ini berpotensi mengganggu agenda besar Paus Leo. Ia dijadwalkan melakukan perjalanan apostolik ke Uruguay, Argentina, dan Peru pada 6-17 November mendatang. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi apakah jadwal tersebut akan tetap berjalan atau ditunda.
Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, turut menyampaikan dukungannya. Ia mengaku lega dengan ketenangan yang ditunjukkan Paus Leo saat mengumumkan kondisinya. Situasi ini sedikit berbeda dengan pendahulunya, Paus Fransiskus, yang meninggal pada usia 88 tahun dan sering keluar-masuk rumah sakit tanpa pengumuman resmi sebelumnya.