Dua kapal tanker minyak dilaporkan terbakar hebat setelah menghantam ranjau laut di Selat Hormuz. Insiden ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas pasokan energi global.
Menurut pernyataan Garda Revolusi Iran (IRGC), masing-masing tanker mengangkut sekitar dua juta barel minyak mentah. Kapal pertama memicu ledakan dahsyat, sementara kapal kedua dilalap api besar. Informasi mengenai identitas kapal dan asal muatan masih belum jelas.
Pihak berwenang Iran menduga kedua kapal tersebut menonaktifkan sistem radar dan navigasi untuk melewati jalur ilegal yang tidak diizinkan. IRGC bahkan menuding salah satu tanker mencoba melintas dengan dukungan Amerika Serikat, sementara kapal lainnya lumpuh di lokasi kejadian.
Ketegangan di Selat Hormuz memanas sejak konflik militer AS-Israel dimulai. Iran kini mewajibkan semua kapal meminta izin sebelum melintas. Panglima Angkatan Laut IRGC memperingatkan bahwa kapal yang mematikan sistem navigasi akan dianggap sebagai ancaman bermusuhan.
Dampaknya sangat serius bagi masyarakat global. Data pelacakan kapal menunjukkan penurunan drastis lalu lintas minyak dari 20,8 juta barel per hari menjadi hanya 2,9 juta barel dalam waktu singkat. Blokade ini memicu lonjakan harga energi dan inflasi dunia. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan menggunakan senjata nuklir dan optimis konflik akan berakhir setelah pemilu paruh waktu November mendatang.