Washington, DC - Amerika Serikat mengumumkan putaran baru negosiasi antara Israel dan Lebanon akan digelar di Washington pekan depan. Pengumuman ini muncul setelah Israel dan Hizbullah kembali menyepakati gencatan senjata di Lebanon, di tengah kekhawatiran konflik bisa menggagalkan nota kesepahaman (MoU) AS-Iran untuk mengakhiri perang.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam percakapan dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun, Jumat (20/6), menegaskan bahwa negosiasi bilateral dengan Israel adalah satu-satunya jalan realistis menuju rekonstruksi dan pemulihan ekonomi. Rubio juga menekankan pentingnya menghentikan siklus kekerasan yang berulang.
Jadwal perundingan sudah ditetapkan pada 23 dan 25 Juni mendatang. Dua pertemuan sebelumnya pada April dan Juni lalu memang menghasilkan jeda pertempuran, tapi kemajuan terhambat karena Hizbullah tidak dilibatkan langsung. Akibatnya, serangan balasan masih terjadi. Dalam 24 jam terakhir saja, serangan Israel menewaskan sedikitnya 47 orang di Lebanon selatan.
Pemerintah Lebanon sendiri tengah berupaya melucuti senjata Hizbullah sebagai bagian dari peta jalan yang didukung AS. Namun, teks kesepakatan Juni lalu hanya meminta Hizbullah mundur ke utara Sungai Litani, tanpa menuntut penarikan penuh Israel dari Lebanon selatan. Sementara itu, MoU AS-Iran secara khusus menjamin integritas teritorial Lebanon.
Analisis: Kesepakatan ini ibarat 'api dalam sekam'. Tanpa keterlibatan Hizbullah di meja perundingan, gencatan senjata hanya bersifat sementara. Di sisi lain, desakan AS agar Lebanon melucuti Hizbullah bisa memicu ketegangan internal. Jika Israel terus melancarkan serangan, MoU AS-Iran pun terancam gagal total. Situasi ini menunjukkan bahwa perdamaian Timur Tengah masih sangat rapuh.