PRISTINA - Kosovo resmi mengakhiri kebuntuan politik mereka dengan memilih Justina Shiroka Pula sebagai presiden baru. Keputusan ini diambil tepat di menit-menit awal Rabu, beberapa saat sebelum tenggat waktu konstitusional berakhir, sebuah langkah krusial yang menyelamatkan negara itu dari potensi krisis politik yang lebih dalam.
Pemilihan ini bukan tanpa drama. Sebelumnya, parlemen sempat dilanda ketegangan tinggi. Aksi protes besar-besaran mewarnai jalanan ibu kota Pristina, dipicu oleh kekecewaan publik terhadap putusan pengadilan terhadap para mantan pemimpin Tentara Pembebasan Kosovo (KLA) di Den Haag. Situasi memanas ketika demonstran menuntut perubahan kerangka hukum yang mengatur Pengadilan Khusus tersebut.
Di tengah tekanan jalanan dan tenggat waktu yang mendesak, partai penguasa Vetevendosje (LVV) dan oposisi PDK akhirnya mencapai kompromi politik. Mereka sepakat mengusung Shiroka Pula, seorang akademisi dan mantan menteri berusia 73 tahun. Ia meraih 81 suara—hanya selisih satu suara di atas ambang batas dua pertiga (80 suara) yang dibutuhkan.
Pemilihan ini dinilai sebagai langkah pragmatis untuk menstabilkan institusi negara. Para analis menilai, tidak ada partai yang siap menanggung risiko politik jika harus menggelar pemilu dini lagi. Selain memilih presiden, parlemen juga menyetujui amandemen terkait Pengadilan Khusus KLA, menjawab salah satu tuntutan utama demonstran.
Dengan terpilihnya Shiroka Pula, Kosovo kembali mencatat sejarah dengan presiden perempuan ketiga berturut-turut setelah Atifete Jahjaga dan Vjosa Osmani. Langkah ini diharapkan mampu meredakan ketegangan di jalanan dan memulihkan fungsi pemerintahan yang sempat macet.