Gelombang protes pelajar di Prancis memanas. Aksi demonstrasi yang awalnya menuntut perbaikan fasilitas sekolah berujung ricuh di berbagai kota, memicu kebakaran di sejumlah institusi pendidikan dan penangkapan massal oleh aparat keamanan.
Insiden kebakaran terjadi di dua sekolah menengah di Nantes, bagian barat Prancis, serta sebuah sekolah di Rouen yang pintu masuknya dilalap api. Aksi pembakaran ini dipicu oleh kemarahan siswa terhadap bangunan sekolah yang rusak, kekurangan guru, kelas yang penuh sesak, serta minimnya anggaran operasional.
Menteri Dalam Negeri Prancis melaporkan sebanyak 1.949 orang ditangkap pada Kamis lalu, dengan 305 polisi mengalami luka-luka. Perdana Menteri Sébastien Lecornu menggelar rapat krisis untuk membahas situasi ini, dan pemerintah menyebut aksi tersebut telah bergeser menjadi "kekerasan perkotaan".
Protes yang dimulai pekan lalu oleh siswa sekolah menengah (lycée) ini kini meluas ke ratusan sekolah dan setidaknya 30 universitas, termasuk di Rennes dan Paris. Di Marseille dan Strasbourg, layanan transportasi publik terpaksa dihentikan akibat aksi vandalisme dan ancaman kekerasan.
Dampak bagi masyarakat sangat luas. Aktivitas belajar mengajar terhenti total di wilayah terdampak, sementara mobilitas warga terganggu akibat gangguan transportasi. Isu ini juga telah masuk ke ranah politik, di mana pemerintah dan politisi kanan keras menuduh kelompok kiri radikal sebagai dalang kekerasan, memicu ketegangan politik menjelang pemilihan umum mendatang.