Katmandu, Nepal - Pernyataan mengejutkan Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, di parlemen kembali memanaskan sengketa batas wilayah yang sudah berlangsung selama 200 tahun. Dalam pidato perdananya pada Minggu lalu, Shah mengakui bahwa Nepal juga telah merambah wilayah India, sebuah pengakuan yang jarang keluar dari pejabat Nepal dan langsung memicu kemarahan para anggota parlemen di negaranya sendiri.
Shah, yang pada usia 35 tahun menjadi perdana menteri termuda Nepal, mengatakan bahwa fakta ini baru ia ketahui setelah menjabat. “Anda akan terkejut mengetahui sebuah fakta yang baru saya pelajari, tidak hanya India yang merampas wilayah Nepal, tetapi Nepal juga telah merambah wilayah India di banyak tempat,” ujarnya. Ia tidak merinci secara spesifik wilayah mana yang dimaksud, namun menekankan bahwa kedua negara harus duduk bersama untuk menyelesaikan masalah ini.
Sengketa ini berpusat pada tiga titik utama di perbatasan utara: Limpiyadhura, Lipulekh, dan Kalapani. Wilayah ini menjadi rebutan karena dianggap memiliki nilai strategis dan historis, termasuk sebagai jalur perdagangan kuno. Langkah Shah meminta bantuan Inggris Raya untuk mengakses peta-peta survei asli tahun 1827 dan 1834 dinilai sebagai strategi untuk memperkuat posisi Nepal dalam negosiasi.
Analisis Dampak: Pernyataan ini berpotensi memicu ketegangan diplomatik baru di kawasan Asia Selatan. Di satu sisi, pengakuan jujur Shah bisa membuka jalan negosiasi yang lebih transparan. Namun di sisi lain, pernyataan ini dianggap melemahkan posisi Nepal yang selama ini konsisten menjadi pihak yang dirugikan. Langkah Shah yang kontroversial ini juga dinilai sebagai bagian dari manuver politik internal, mengingat partainya yang masih baru (Rastriya Swatantra Party) tengah berupaya membangun citra di tengah situasi politik yang tidak stabil pasca penggulingan Perdana Menteri sebelumnya.