Di balik tampilan normal kota-kota besar Rusia, ekonomi negara itu kini sepenuhnya berorientasi pada produksi senjata. Namun, sanksi Barat mulai terasa dan serangan Ukraina pada fasilitas militer serta energi Rusia menimbulkan kerugian signifikan. Kecemasan sosial pun meningkat, ditandai laporan kekerasan domestik dan masalah yang melibatkan tentara yang kembali dari garis depan, meskipun sebagian besar warga enggan bicara terbuka tentang perang.
Kremlin dengan lihai mengendalikan narasi melalui media resmi. Mereka menyalahkan Barat sebagai "musuh" yang ingin menghancurkan Rusia, gencar menyiarkan pesan bahwa perang adalah bagian tak terpisahkan dari identitas Rusia. Narasi ini diperkuat dengan janji kemenangan, runtuhnya Ukraina, dan pecahnya persatuan Barat. Masyarakat diminta bersabar dan mendukung pemerintah, dengan ancaman alternatif yang dianggap lebih buruk. Untuk menjaga narasi ini, informasi alternatif dari media sosial asing seperti YouTube dan Telegram dibatasi ketat.
Ironisnya, media resmi Rusia tak pernah menampilkan penderitaan sesungguhnya di Ukraina: ratusan ribu orang di Kyiv, Kharkiv, dan kota-kota lain bertahan tanpa listrik, air, atau pemanas di tengah cuaca dingin ekstrem. Kontras ini menyoroti jurang antara retorika resmi dan kenyataan brutal di lapangan. Meskipun ada keinginan kuat akan kemenangan, minat warga Rusia untuk bergabung dengan tentara sangat minim, menunjukkan adanya kesenjangan antara semangat nasionalisme yang digembar-gemborkan dan kesediaan untuk berkorban secara pribadi.
Pada akhirnya, Putin memang berhasil mempertahankan kendali politik dan ekonomi di dalam negeri dengan memanipulasi informasi dan mengarahkan sumber daya. Namun, harga yang dibayar sangat mahal, tidak hanya oleh rakyatnya sendiri yang menghadapi kenaikan harga dan pembatasan, tetapi terutama oleh jutaan jiwa di Ukraina yang menjadi korban langsung dari konflik berkepanjangan ini, jauh dari janji "perlindungan" Donbas yang diusung di awal. Ini adalah sebuah kemenangan ilusi yang dibangun di atas penderitaan dan penyesatan informasi.