Kabar pilu kembali menyelimuti perairan Mediterania. Dua balita kembar berusia satu tahun dilaporkan hilang di tengah laut setelah sebuah kapal yang mengangkut puluhan pengungsi dan migran tiba di Pulau Lampedusa, Italia, dalam kondisi sangat mengkhawatirkan.
Organisasi nirlaba Save the Children mengonfirmasi, 61 orang berhasil diselamatkan dari kapal tersebut sehari sebelumnya. Di antara mereka, ada ibu dari si kembar yang hilang serta 22 anak di bawah umur tanpa pendamping. Para penyintas menggambarkan perjalanan mengerikan selama tiga hari dari Tunisia, menerjang badai dahsyat yang diperparah oleh Siklon Harry, menyebabkan mereka tiba dalam kondisi fisik dan psikologis yang sangat tertekan. Tragisnya, satu orang meninggal dunia tak lama setelah turun dari kapal.
Insiden ini menambah daftar panjang korban di Mediterania Tengah, yang oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) disebut sebagai rute migrasi paling mematikan di dunia. Data IOM menunjukkan, nyaris 1.000 orang meninggal atau hilang di rute ini sepanjang tahun 2025, menambah total lebih dari 25.000 korban jiwa sejak 2014. Yang lebih memilukan, jumlah anak-anak yang kehilangan nyawa di lepas pantai Tunisia melonjak menjadi 30 orang tahun ini, dibanding 22 orang sepanjang tahun 2024.
Peningkatan keberangkatan dari Tunisia dalam beberapa tahun terakhir ini bukan tanpa alasan. Negara tersebut menghadapi tingkat pengangguran tinggi serta tekanan sosial-ekonomi dan politik yang mendalam, mendorong banyak warganya mencari harapan baru di luar negeri. Namun, seperti yang disoroti Save the Children, ketiadaan jalur migrasi yang aman memaksa mereka mempertaruhkan nyawa dalam perjalanan berbahaya dan seringkali berujung maut.
Giorgia D’Errico, Direktur Hubungan Institusional Save the Children, menegaskan bahwa Uni Eropa memiliki tanggung jawab atas setiap keputusan yang membahayakan mereka yang melarikan diri dari kemiskinan, kekerasan, dan penganiayaan. "Kita tidak bisa diam menyaksikan hilangnya nyawa manusia, termasuk begitu banyak anak-anak, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Laut, sekali lagi, menjadi perbatasan yang mematikan. Pembantaian yang tidak dapat diterima ini harus diakhiri," tegasnya, menyoroti urgensi krisis kemanusiaan yang tak berkesudahan ini.