Intelijen Suriah baru saja menggagalkan aksi teror yang menyasar kilang minyak Homs, salah satu fasilitas energi paling vital di negara itu. Operasi keamanan preemptif tersebut berhasil menangkap dua tersangka berinisial MS dan BS, lengkap dengan barang bukti sejumlah alat peledak yang sudah disiapkan untuk melancarkan aksi.
Pemerintah Suriah langsung menuding kelompok bersenjata Hezbollah asal Lebanon berada di balik rencana ini. Namun, tuduhan tersebut dibantah keras oleh pihak Hezbollah. Mereka menegaskan tidak memiliki kehadiran apa pun di wilayah Suriah dan tidak terlibat dalam aktivitas yang mengancam stabilitas negara tersebut.
Ketegangan ini menjadi sinyal bahwa hubungan Damaskus dengan Hezbollah memang sedang memanas. Sejak tumbangnya rezim Bashar al-Assad, otoritas Suriah kerap menuduh Hezbollah terlibat dalam berbagai skenario berbahaya, mulai dari rencana pembunuhan hingga penyelundupan senjata. Serangan terhadap infrastruktur energi memang bukan hal baru di sana. Sebelumnya, jalur pipa Baniyas-Homs sempat rusak dan menyebabkan kebocoran bahan bakar, sementara beberapa pembangkit listrik utama terpaksa mati akibat ledakan jalur gas. Situasi ini tentu menjadi alarm bagi masyarakat luas akan kerentanan pasokan energi dan eskalasi konflik keamanan di kawasan.